Jawa Pos Radar Madiun – Datangnya musim hujan meningkatkan ancaman penyakit berbasis lingkungan di Kabupaten Pacitan.
Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mengingatkan masyarakat agar mewaspadai tiga penyakit. Yakni, demam berdarah dengue (DBD), leptospirosis, dan diare.
Dua di antaranya bahkan mencatat ratusan kasus sepanjang 2025. Dinkes Pacitan mencatat sekitar 300 kasus DBD dan 250 kasus leptospirosis pada tahun tersebut.
Kepala Dinkes Pacitan Daru Mustikoaji mengatakan, perubahan kondisi lingkungan selama musim hujan dapat meningkatkan risiko penularan penyakit. Terutama akibat genangan air, banjir, dan pencemaran sumber air bersih.
‘’Setidaknya ada tiga penyakit yang perlu diwaspadai masyarakat saat memasuki musim penghujan,’’ ujarnya, Kamis (5/11).
Menurut Daru, DBD menjadi salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian ketika intensitas hujan meningkat.
Genangan air pada kaleng bekas, ban, maupun wadah terbuka dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, salah satu vektor penular virus dengue.
Jika tempat perkembangbiakan nyamuk tidak dikendalikan, risiko penularan DBD dapat meningkat.
Karena itu, masyarakat diminta rutin menguras dan menutup tempat penampungan air serta menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Selain DBD, Dinkes Pacitan mewaspadai leptospirosis. Penyakit akibat infeksi bakteri Leptospira tersebut tercatat mencapai sekitar 250 kasus sepanjang tahun lalu.
Leptospirosis dapat menular melalui kontak dengan air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi, termasuk tikus.
Risiko infeksi meningkat apabila air yang terkontaminasi mengenai kulit yang terluka atau masuk melalui selaput lendir.
‘’Kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi berisiko menyebabkan penularan leptospirosis,’’ jelas Daru.
Masyarakat yang beraktivitas di lingkungan rawan genangan maupun banjir diminta menghindari kontak langsung dengan air yang berpotensi tercemar.
Penyakit ketiga yang perlu diwaspadai adalah diare. Risiko penyakit tersebut dapat meningkat ketika sumber air bersih tercemar akibat hujan deras maupun banjir.
Sumur dangkal menjadi salah satu sumber air yang rentan mengalami pencemaran apabila terendam atau kemasukan air banjir.
Daru meminta masyarakat memastikan air yang digunakan untuk minum dan mengolah makanan dalam kondisi aman.
Selain menjaga kebersihan sumber air, warga juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih, memberantas sarang nyamuk, serta menghindari kontak dengan genangan banjir.
‘’Kewaspadaan terhadap penyakit berbasis lingkungan perlu ditingkatkan,’’ pungkasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto