Oleh: Candra Ghulam Ahmad*
SUARA tabuhan tambur dan gemerincing simbal terdengar rancak memecah keheningan sore di halaman MTsN 4 Madiun.
Namun, bukan rebana atau hadrah yang tengah dimainkan, melainkan instrumen khas Tionghoa pengiring tarian Barongsai.
Di balik kostum singa yang lincah melompat itu, adalah siswa-siswi madrasah yang dengan bangga merawat keberagaman lewat seni.
Kehadiran ekstrakurikuler Barongsai di lingkungan madrasah ini menjadi sebuah fenomena menarik sekaligus simbol nyata akulturasi budaya.
Tanpa banyak kata, MTsN 4 Madiun menegaskan posisinya sebagai pelopor moderasi beragama, di mana seni tradisi dan nilai religius dapat berjalan beriringan secara harmonis.
Menembus Batas Lewat Seni
Kepala Madrasah MTsN 4 Madiun, Drs. Suyono Triwibowo, M.Pd., menjelaskan bahwa inisiatif ini bukan sekadar kegiatan fisik semata.
Menurutnya, madrasah harus menjadi ruang yang inklusif dan terbuka terhadap khazanah budaya bangsa, selama tidak bertentangan dengan akidah.
"Kami ingin menanamkan pola pikir terbuka kepada para siswa. Barongsai adalah seni budaya yang mengajarkan kekompakan, keberanian, dan disiplin. Ketika siswa madrasah memainkannya, pesan toleransi itu tersampaikan secara otomatis tanpa perlu pidato panjang lebar," ujar Suyono.
Semangat Latihan dan Disiplin
Di lapangan, semangat para siswa terlihat menyala di bawah bimbingan Pembina Ekstrakurikuler, Yudho Trisnanto, S.Pd.
Latihan rutin digelar untuk melatih ketangkasan fisik dan harmoni antar pemain.
Barongsai membutuhkan kerja sama tim yang solid. Satu langkah kaki yang salah bisa mengacaukan keseimbangan sang singa.
Bagi Yudho, melatih siswa madrasah memainkan Barongsai memiliki tantangan dan keunikannya tersendiri.
"Anak-anak sangat antusias. Mereka belajar bahwa seni itu universal. Lewat gerakan dan musik, mereka belajar menghargai budaya lain. Ini adalah bentuk moderasi beragama yang paling cair dan mudah diterima oleh generasi muda," ungkap Yudho di sela-sela latihan.
Langkah berani MTsN 4 Madiun ini membuktikan bahwa madrasah tidak hanya tempat mencetak insan yang pandai mengaji, tetapi juga insan yang siap hidup berdampingan dalam keberagaman budaya Nusantara.
Gendang yang ditabuh di MTsN 4 Madiun bukan sekadar musik, melainkan detak jantung persaudaraan yang melampaui sekat-sekat perbedaan.
(*/naz)
*Penulis merupakan Guru di MTsN 4 Madiun, Peserta Workshop Speak Up and Write Now Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani