Oleh: Makhrus Ali*
DI MIN 5 Ngawi, dua istilah yang terdengar jenaka namun sarat makna kerap muncul dalam percakapan para guru.
“Kudis” digunakan untuk menggambarkan Kurang Disiplin, sedangkan “Kurap” merujuk pada Kurang Rapi.
Meski bernada ringan, kedua istilah ini mencerminkan berbagai kebiasaan kecil yang perlu dibenahi dalam keseharian siswa.
Pada suatu pagi, para guru mulai menyadari meningkatnya gejala “kudis”.
Beberapa siswa datang tidak tepat waktu, lupa mengenakan atribut seragam, hingga mengabaikan tugas yang seharusnya dikerjakan.
Di saat yang sama, tanda-tanda “kurap” juga tampak di berbagai sudut.
Ada yang tidak merapikan baju, tidak memakai ikat pinggang, membiarkan kuku memanjang, dan sejumlah siswa laki-laki berambut melebihi ketentuan madrasah.
Sebagai langkah perbaikan, MIN 5 Ngawi menghadirkan program Furudhul Ainiyah.
Inisiatif ini menjadi upaya rutin untuk menanamkan karakter Islami yang disiplin, rapi, dan bertanggung jawab.
Program tersebut dijalankan setiap hari dengan dukungan penuh seluruh elemen madrasah.
Setiap siswa yang terlihat kurang tertib akan dibimbing agar segera memperbaiki sikap maupun penampilannya.
Melalui slogan Berbudi, Berprestasi, dan Semakin di Hati, MIN 5 Ngawi menegaskan komitmennya untuk menjadi lembaga pendidikan yang bukan hanya mengutamakan akademik.
Selain itu, juga pembentukan akhlak dan karakter.
Madrasah ini berharap dapat mencetak generasi yang santun, unggul, serta tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang humanis dan penuh kasih.
(*/naz)
*Penulis merupakan Guru di MIN 5 Ngawi, Peserta Workshop Speak Up and Write Now Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani