Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Keteladanan Guru sebagai Kunci Utama Membentuk Karakter Siswa

Redaksi • Selasa, 2 Desember 2025 | 19:01 WIB

Pembiasaan berdoa sebelum memulai pelajaran.
Pembiasaan berdoa sebelum memulai pelajaran.

Oleh: Haris Wahyu Utomo, S.Pd.*

Pendidikan sejatinya bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa.

Lebih dari itu, pendidikan adalah sebuah perjalanan panjang untuk membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur.

Filsuf Yunani, Socrates, pernah mengatakan, "Virtue is knowledge, and therefore it can be taught. If virtue is knowledge, then the lack of virtue results from ignorance."

Kutipan tersebut menegaskan bahwa kebajikan adalah ilmu yang bisa diajarkan.

Jika ada kemerosotan moral, hal itu bisa jadi disebabkan oleh ketidaktahuan akan nilai-nilai kebaikan itu sendiri.

Di sinilah peran guru menjadi sangat vital. Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara, telah meletakkan dasar filosofis yang kuat melalui semboyan "Ing Ngarsa Sung Tuladha".

Artinya, seorang guru yang berada di depan harus mampu memberikan teladan.

Guru tidak hanya bertugas memberikan arahan atau teori di dalam kelas, tetapi juga mempraktikkan budi pekerti luhur dalam setiap tindakannya.

Keteladanan ini menjadi metode paling ampuh dalam mendidik.

Sebab, siswa cenderung meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang sekadar mereka dengar.

Dalam perspektif Islam, profesi guru juga memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah:

“Sedekah yang paling utama adalah seorang Muslim yang mempelajari satu disiplin ilmu kemudian mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim.”

Hadis ini menjadi pengingat bahwa mengajar adalah bentuk sedekah jariyah. Semangat inilah yang seharusnya melandasi setiap langkah guru dalam mendidik siswanya.

Untuk mewujudkan pembentukan karakter yang efektif, setidaknya ada empat prinsip utama yang perlu ditanamkan oleh guru di sekolah.

1. Menanamkan Nilai-Nilai Tauhid

Ini adalah fondasi utama.

Siswa diajarkan untuk meyakini keesaan Allah SWT, sehingga mereka merasa selalu diawasi dalam setiap gerak-geriknya.

2. Menanamkan Nilai-nilai Tata Krama

Sopan santun adalah wajah dari akhlak seseorang.

Guru harus mencontohkan bagaimana menghormati orang lain, berbicara dengan lembut, dan bersikap santun di lingkungan sekolah.

3. Menanamkan Nilai Kejujuran

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja.

Siswa perlu dibiasakan untuk berkata benar dan bertindak jujur, dimulai dari hal-hal kecil seperti tidak menyontek saat ujian.

4. Menanamkan Pembiasaan Menjalankan Ibadah Wajib

Disiplin beribadah akan membentuk karakter disiplin dalam aspek kehidupan lainnya. Guru perlu memastikan siswa terbiasa menjalankan kewajibannya sebagai hamba Tuhan.

Keempat prinsip tersebut tidak akan bisa tertanam kuat jika hanya disampaikan lewat lisan.

Guru harus menjadi figur pertama yang mempraktikkan nilai-nilai tauhid, tata krama, kejujuran, dan ibadah tersebut.

Dengan paduan filosofi Ki Hajar Dewantara, pemikiran Socrates, dan semangat kenabian, para guru diharapkan mampu mencetak generasi yang tak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter mulia.

(*/naz)

*Penulis merupakan Guru di MIN 2 Ponorogo, Peserta Workshop Speak Up and Write Now Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Mizan Ahsani
#madrasah #guru #pendidikan karakter #karakter siswa #ponorogo #islam