Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Kata Pakar soal Revolusi AI di Dunia Pendidikan: Bawa Kemudahan Taktis, Sisakan Dilema Etis

Mizan Ahsani • Jumat, 29 Mei 2026 | 16:50 WIB
Visualisasi Pelajar Memanfaatkan AI dalam Dunia Pendidikan
Visualisasi Pelajar Memanfaatkan AI dalam Dunia Pendidikan

Jawa Pos Radar Madiun - Invasi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) di sektor pendidikan memantik diskursus hangat di kalangan akademisi.

Para ahli sepakat bahwa teknologi ini adalah pedang bermata dua; menawarkan lompatan efisiensi yang luar biasa, namun menuntut benteng etika yang super ketat.

Dari sudut pandang inovasi, Ketua Pusat AI Institut Teknologi Bandung (ITB), Nugraha Priya Utama, menilai kehadiran AI merupakan sebuah revolusi menuju sistem belajar yang lebih cerdas.

Menurutnya, mesin kecerdasan buatan mampu menyajikan pengalaman belajar yang adaptif dan personalized, di mana materi bisa disesuaikan secara otomatis dengan kemampuan masing-masing siswa.

"AI memainkan peran penting dalam meningkatkan efisiensi sistem pendidikan. Dengan otomatisasi tugas administratif dan penilaian, guru memiliki lebih banyak waktu untuk merancang strategi pembelajaran interaktif," paparnya.

Selain itu, Nugraha menyoroti kemampuan AI dalam mendobrak hambatan geografis dan keterbatasan fisik, sehingga akses pendidikan berkualitas menjadi jauh lebih inklusif.

Baca Juga: Hasil TKA SD dan SMP 2026 Diumumkan Hari Ini, Simak Cara Baca Nilai dan Fungsi SHTKA

Ancaman Krisis Nalar Kritis dan Etika

Meski menjanjikan efisiensi tingkat tinggi, para ahli juga membunyikan alarm bahaya.

Laporan resmi UNESCO (2023) memperingatkan bahwa pemanfaatan AI yang serampangan di sekolah justru dapat memperlebar kesenjangan, memperkuat bias, dan yang paling fatal: mengikis kemampuan berpikir kritis siswa secara perlahan.

Dilema etis ini sangat nyata terjadi di lapangan. Praktik penggunaan chatbot seperti ChatGPT oleh siswa untuk mengerjakan esai atau tugas sekolah sering kali mengaburkan batas antara "mencari bantuan referensi" dengan "kecurangan akademik".

Mesin bisa menyajikan hasil akhir yang sempurna secara instan, namun menihilkan proses berpikir siswa yang sejatinya merupakan roh utama dari pendidikan.

Menyikapi fenomena ini, pakar literasi digital dan etika AI menegaskan bahwa solusi dari permasalahan ini tidak terletak pada pelarangan teknologi, melainkan pada peningkatan kapasitas guru.

Baca Juga: Rincian Dana dan Cara Cek Penerima PIP Kemendikdasmen 2026 lewat HP

Guru: Navigasi Moral yang Tak Tergantikan

Di tengah gempuran teknologi, para ahli sepakat pada satu kesimpulan mutlak: AI tidak akan pernah bisa menggantikan hubungan personal antara pendidik dan murid.

Tuntutan profesi guru di era digital kini telah bergeser. Guru tidak lagi sebatas penyalur ilmu, melainkan harus bertransformasi menjadi pembimbing etika.

Mereka dituntut menyusun metode asesmen atau penilaian secara holistik yang lebih menitikberatkan pada proses berpikir dan orisinalitas ide siswa, bukan sekadar melihat hasil akhir.

Menyongsong masa depan pendidikan yang berdampingan dengan mesin cerdas, sekolah wajib merumuskan kebijakan etika digital yang tegas.

Dengan literasi AI yang mumpuni, guru akan mampu menjadi kompas moral, memastikan bahwa teknologi tetap dikendalikan oleh manusia yang berintegritas, bukan sebaliknya. (*)

*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura.

Editor : Mizan Ahsani
#krisis nalar #plagiarisme #pandangan ahli #ai #pendidikan