Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Ketika AI Dijadikan Alat Tipu: Refleksi Skandal Riset Palsu ISPPD 2026 dan Retaknya Jaringan Sains

Hengky Ristanto • Senin, 8 Juni 2026 | 10:02 WIB
Wahyu Mahesa Miarta Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya
Wahyu Mahesa Miarta Dosen Ilmu Komunikasi, Universitas Negeri Surabaya

Oleh: Wahyu Mahesa Miarta 

SAYA membaca kabar ini bukan dengan sekadar prihatin. Ada sesuatu yang lebih berat dari itu.

Semacam rasa malu sekaligus marah yang mungkin dirasakan oleh siapa pun yang selama ini bekerja keras menapaki dunia riset dengan cara yang benar, dengan data yang nyata, serta lewat malam-malam panjang yang tidak pernah dilihat orang.

Di konferensi ISPPD 2026 yang berlangsung pertengahan Mei kemarin di Kopenhagen, Denmark, sebuah forum paling bergengsi bagi para ahli pneumonia dunia, sekelompok oknum dari Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan global.

Modusnya sangat rahasia namun memalukan. Mereka berganti-ganti nama hanya dengan bermodalkan ganti jilbab dan kartu nama, lalu berpindah dari satu ruang presentasi ke ruang presentasi lain.

Di balik semua pertunjukan teatrikal itu, tersimpan data fabrikasi berbasis kecerdasan buatan atau AI serta deretan identitas fiktif.

Semua itu dilakukan demi mendapatkan dana perjalanan ke berbagai negara.

Tiket gratis keliling dunia menjadi harga yang harus dibayar dengan runtuhnya harga diri bangsa.

Sebagai akademisi yang bekerja sehari-hari dengan AI, saya sering menggunakannya untuk menyusun kerangka literatur, mempercepat penulisan, atau mengeksplorasi celah riset yang belum tersentuh.

AI adalah mitra kerja yang luar biasa selama dipegang oleh manusia yang memiliki kompas moral yang lurus.

Namun, apa yang terjadi di Kopenhagen kemarin melampaui sekadar kegagalan teknologi atau cacat moral individu.

Jika kita membedahnya melalui kacamata sosiologi post-humanisme dari Bruno Latour, khususnya lewat Teori Aktor Jaringan (Actor-Network Theory), kita akan melihat bahwa skandal ini adalah potret dari runtuhnya sebuah ekosistem ilmiah akibat aliansi terlarang antara manusia dan mesin.

Bagi Latour, dunia ini tidak hanya digerakkan oleh manusia selaku aktor tunggal, melainkan juga oleh entitas non-manusia yang ia sebut sebagai actants.

AI dalam skandal ini tidak lagi menjadi sekadar alat mati yang pasif di sudut meja.

Teknologi ini memiliki agensinya sendiri karena ia mampu memfabrikasi data ilmiah yang sangat kompleks, masif, dan tampak meyakinkan hanya dalam hitungan detik.

Kebohongan berskala internasional ini mustahil terjadi begitu mulus tanpa keterlibatan aktif dari kapasitas kecerdasan buatan tersebut.

Ketika ambisi pragmatis manusia untuk berburu dana perjalanan bertemu dengan kemampuan teknologis AI ini, keduanya melebur menjadi sebuah jaringan hibrida yang solid untuk mengelabui sistem.

Sains itu sendiri sebetulnya bukanlah sebuah kebenaran mutlak yang berdiri sendiri di menara gading.

Sains adalah sebuah rajutan jaringan kepercayaan yang sangat kompleks yang melibatkan jurnal, penelaah sejawat, keaslian data, reputasi institusi, hingga komite konferensi.

Ketika para oknum peneliti ini memalsukan identitas dan menggunakan AI untuk mengarang karya ilmiah, mereka sebenarnya tengah meretas dan merusak seluruh rantai kepercayaan tersebut.

Fabrikasi data dalam tradisi akademik mana pun adalah sebuah pengkhianatan terbesar terhadap esensi ilmu pengetahuan, bukan sekadar pelanggaran prosedur administrasi belaka.

Komite penyelenggara memang telah resmi membatalkan seluruh karya, memasukkan nama-nama mereka ke dalam daftar hitam, serta mencabut seluruh pendanaan.

Itu adalah konsekuensi logis yang sangat setimpal. Namun dalam perspektif Latour, kepercayaan dalam dunia sains itu bersifat relasional dan saling mengikat satu sama lain.

Ketika satu simpul dalam jaringan akademik terbukti korup, dalam hal ini aktor akademisi dari Indonesia, maka efek domino akan langsung melanda simpul-simpul lainnya yang berada dalam ekosistem yang sama.

Inilah alasan mengapa ada korban lain yang tidak pernah masuk dalam pemberitaan media.

Saya langsung memikirkan para peneliti Indonesia lainnya yang hari ini sedang hadir di berbagai forum internasional dengan karya yang benar-benar mereka peras dari keringat sendiri. 

Mereka yang begadang semalaman mengolah data, merevisi naskah berkali-kali hingga penelaah sejawat puas, atau mengirim artikel ke jurnal bereputasi sambil menahan napas menunggu keputusan dewan redaksi.

Nama-nama mereka memang tidak disebut dalam skandal Kopenhagen, tetapi karena mereka berada dalam jaringan identitas geopolitik yang sama, reputasi akademik mereka kini ikut terseret dan melemah di mata komunitas internasional.

Jangan sampai tindakan memalukan dari segelintir oknum ini merusak kepercayaan global terhadap ribuan akademisi dan peneliti Indonesia yang selama ini bekerja dengan jujur, sunyi, dan profesional.

Ini bukan sekadar kalimat retorika yang indah di atas kertas. Ini adalah ancaman nyata yang sedang terjadi sekarang, yang mulai terasa di setiap kotak masuk email kolaborasi internasional yang meragu, serta di setiap meja peninjauan proposal riset kita ke depan.

Sanksi tegas tidak boleh berhenti pada manusianya saja.

Kita dipaksa untuk merestrukturisasi kembali bagaimana tata kelola jaringan antara manusia, institusi, dan teknologi AI agar integritas sains kita tidak runtuh digerus zaman. (*)

Editor : Hengky Ristanto
#integritas akademik #ISPPD 2026 #Bruno Latour #riset palsu #ai