Filosofi Wayang Jawa: Kenapa Semar hingga Sengkuni Masih Relevan dengan Masa Kini?

Ki Damar • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:34 WIB
LESTARIKAN BUDAYA: Pemdes Setono, Kecamatan Ngrambe, menggelar pagelaran seni budaya wayang kulit dengan lakon Lahire Gatotkoco dalam memperingati bersih desa, Kamis (2/6). (SATRIO JATI/RADAR MADIUN)
LESTARIKAN BUDAYA: Pemdes Setono, Kecamatan Ngrambe, menggelar pagelaran seni budaya wayang kulit dengan lakon Lahire Gatotkoco dalam memperingati bersih desa, Kamis (2/6). (SATRIO JATI/RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Semar bisa membuat penonton tertawa. Sengkuni membuat orang jengkel. Duryudana identik dengan ambisi, sementara Kresna kerap ditempatkan sebagai figur kebijaksanaan.

Namun, tokoh-tokoh wayang sebenarnya tidak berhenti sebagai karakter dalam sebuah cerita.

Di balik perang, percintaan, perebutan kekuasaan dan humor para punakawan, wayang menyimpan pertanyaan yang selalu dihadapi manusia.

Bagaimana menggunakan kekuasaan, menghadapi keserakahan, menjaga kesetiaan, menerima kehilangan, hingga membedakan benar dan salah.

Itulah sebabnya wayang mampu bertahan melampaui zamannya.

Baca Juga: Saatnya Liburan! Promo HUT RI, Pelita Air Tebar Diskon Tiket hingga 45 Persen untuk Semua Rute

Ketika Tokoh Wayang Menjadi Cermin Manusia

Duryudana dapat dibaca sebagai gambaran ambisi dan keserakahan. Sengkuni kerap dimaknai sebagai kecerdikan yang kehilangan kompas moral.

Pandawa membawa narasi mengenai perjuangan mempertahankan kebenaran, sedangkan Kresna kerap ditempatkan sebagai simbol kecerdasan dan kebijaksanaan.

Lalu ada Semar.

Sosoknya jauh dari gambaran penguasa yang gagah. Namun, justru dari figur sederhana itulah nasihat, kritik, bahkan suara rakyat dapat muncul.

Tentu pemaknaan setiap karakter tidak mutlak. Tafsir dapat berubah mengikuti lakon, tradisi pedalangan hingga cara dalang membawakan cerita.

Fleksibilitas itulah yang membuat wayang selalu memiliki ruang untuk berbicara kepada zaman.

Baca Juga: Update Gempa NTT: Tsunami Sempat Terdeteksi 0,94 Meter, Peringatan Berakhir

Bisa Menyindir Kekuasaan

Wayang sejak lama tidak hanya berfungsi sebagai hiburan.

Ia menjadi ruang menyampaikan pesan sosial. Kritik terhadap keadaan masyarakat bahkan kekuasaan dapat diselipkan melalui dialog dan humor.

UNESCO juga mencatat tokoh-tokoh jenaka dalam pertunjukan wayang dapat digunakan untuk mengkritik persoalan sosial dan politik yang sensitif.

Dalang memiliki ruang untuk membaca situasi masyarakat kemudian memasukkannya ke dalam pertunjukan.

Akibatnya, cerita berusia ratusan tahun dapat terasa seperti sedang membicarakan keadaan hari ini.

Wayang bisa berbicara kepada raja. Bisa berbicara kepada petani. Bisa menyentil pejabat. Bisa pula memberi pelajaran kepada anak-anak.

Baca Juga: Benarkah Wayang Sudah Ada Sebelum Hindu-Buddha Masuk Jawa? Ini Jejaknya

Apa Arti Ngugemi Jawane?

Ada ungkapan Jawa ngugemi jawané. Maknanya lebih dalam daripada sekadar mempertahankan simbol-simbol Jawa.

Menjadi Jawa tidak cukup dengan mengenakan blangkon, beskap, berbicara bahasa Jawa, atau sesekali menonton wayang.

Ada nilai di belakangnya.

Unggah-ungguh, tepa selira, andhap asor, tanggung jawab, keseimbangan dan kemampuan menempatkan diri dalam kehidupan sosial merupakan sebagian nilai yang diwariskan lintas generasi.

Wayang menjadi salah satu medium untuk membicarakan semua itu tanpa harus menjadi buku filsafat yang rumit.

Cerita membuat nilai tersebut hidup.

Penonton melihat konsekuensi keserakahan melalui tokohnya. Mereka melihat kesetiaan diuji, kekuasaan diperebutkan, keluarga terpecah, dan manusia dipaksa menentukan pilihan.

Karena itulah wayang sesungguhnya bukan hanya bayangan di belakang kelir.

Ia adalah cermin. Tokohnya boleh berasal dari cerita masa lampau. Namun watak manusia yang diperlihatkannya terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
wayang jawa filosofi Kresna semar Sengkuni