Wayang vs TikTok: Bisakah Budaya Jawa Bertahan di Tangan Gen Z?

Ki Damar • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 07:28 WIB
Ilustrasi pertunjukan wayang oleh dalang
Ilustrasi pertunjukan wayang oleh dalang

Jawa Pos Radar Madiun - Anak muda hafal puluhan karakter gim, tetapi belum tentu mengenal Gatotkaca.

Mereka betah berjam-jam menggulir TikTok, tetapi pertunjukan wayang semalam suntuk mungkin terasa terlalu panjang.

Lantas, apakah Gen Z tidak lagi peduli dengan budaya Jawa? Jangan buru-buru menyalahkan mereka.

Generasi muda tumbuh dalam ekosistem yang sama sekali berbeda dibandingkan generasi orang tua maupun kakek-neneknya.

Internet, video pendek, gim, musik digital, dan media sosial menjadi bagian kehidupan sehari-hari.

Persoalannya mungkin bukan apakah anak muda masih membutuhkan wayang. Pertanyaannya, sudahkah wayang berbicara menggunakan bahasa zaman mereka?

Baca Juga: Pemilik Warung di Madiun Ditemukan Tak Bernyawa, Polisi Ungkap Hasil Pemeriksaan

Dari Kelir ke Layar Smartphone

Dahulu, masyarakat datang ke halaman rumah, lapangan atau pendapa untuk menyaksikan pertunjukan wayang.

Mereka rela bertahan dari malam hingga menjelang pagi.

Sekarang, panggung itu bertambah.

Wayang dapat hadir melalui YouTube, TikTok, Facebook dan berbagai platform digital.

Adegan perang, humor punakawan, sabetan dalang hingga suluk dapat dipotong menjadi konten berdurasi pendek dan menyebar dalam hitungan menit.

Teknologi yang kerap dianggap sebagai ancaman budaya justru dapat menjadi kendaraan baru untuk memperkenalkan wayang.

Tetapi ada konsekuensinya.

Baca Juga: 52 Pejabat Pemkot Madiun Dimutasi, Bagus Minta Program Lama Tetap Dikawal

Wayang Harus Berubah, tetapi Sampai Sejauh Mana?

Perubahan sebenarnya bukan sesuatu yang asing bagi wayang.

Sepanjang sejarah, bentuk pertunjukan, cerita, bahasa hingga iringannya terus berkembang.

Muncul pula berbagai bentuk seperti wayang kulit, wayang orang, wayang golek, wayang beber hingga wayang thengul.

Artinya, perubahan merupakan bagian dari napas kebudayaan itu sendiri.

Masalah muncul ketika adaptasi hanya mengejar perhatian.

UNESCO mencatat persaingan dengan bentuk hiburan modern telah membuat sebagian pertunjukan menonjolkan unsur komedi dan menggunakan musik populer sebagai bagian penyajian.

Adaptasi dapat membuat wayang lebih mudah diterima penonton baru. Namun jika dilakukan terlalu jauh, karakter yang membedakannya dari hiburan lain dapat terkikis.

Maka, persoalannya bukan sekadar apakah wayang harus berubah.

Tetapi bagian mana yang boleh berubah dan bagian mana yang harus dipertahankan.

Baca Juga: Megawati Hangestri Effect, Follower Instagram Hyundai Hillstate Berkembang Paling Pesat

Jangan Paksa Gen Z Menonton Delapan Jam

Mengenalkan wayang kepada generasi digital tidak harus dimulai dengan meminta mereka duduk menonton pertunjukan selama tujuh atau delapan jam.

Bisa dimulai dari satu menit. Siapa Semar? Mengapa Sengkuni begitu dibenci? Sehebat apa Gatotkaca? Mengapa perang Bharatayuda terjadi?

Satu pertanyaan dapat menjadi satu video.

Filosofi satu tokoh dapat menjadi konten singkat. Adegan menarik dapat dikemas secara visual. Musik tradisional dapat bertemu format modern tanpa harus menghilangkan identitasnya.

Sekolah juga dapat menjadi laboratorium penting.

Wayang tidak harus hanya diterangkan sebagai materi pelajaran, tetapi dapat dipertemukan dengan animasi, desain grafis, film pendek, gim, teater hingga teknologi digital.

Anak muda tidak sekadar diminta menjaga budaya. Mereka diberi kesempatan menciptakan cara baru untuk menikmatinya.

Baca Juga: DPRD Ngawi Bangga, Petani Joko Purnomo Dapat Apresiasi Presiden Prabowo

Jangan Sampai Tinggal Karakternya, Hilang Maknanya

Namun, digitalisasi membawa jebakan lain.

Wayang bisa menjadi viral tetapi kehilangan cerita.

Gatotkaca mungkin dikenal sebagai karakter visual, tetapi generasi baru belum tentu memahami kisahnya. Semar dapat menjadi gambar atau meme tanpa orang mengetahui nilai yang dibawanya.

Di sinilah pekerjaan terbesarnya. Yang perlu diwariskan bukan hanya bentuk tokoh, tetapi juga cerita dan pemikiran di belakangnya.

Wayang boleh masuk TikTok.

Boleh tampil di YouTube.

Boleh menggunakan teknologi digital.

Boleh dikemas dengan musik baru.

Tetapi jangan sampai tokohnya tinggal gambar tanpa makna dan lakonnya berubah menjadi hiburan tanpa pesan.

Baca Juga: Benarkah Wayang Sudah Ada Sebelum Hindu-Buddha Masuk Jawa? Ini Jejaknya

Jadi, Apakah Wayang Akan Punah?

Mungkin tidak. Wayang telah melewati pergantian kerajaan, perubahan agama dan masyarakat, kolonialisme, kemerdekaan, radio, televisi hingga internet.

Ia bertahan karena selalu menemukan cara baru untuk berbicara kepada manusia pada zamannya.

Karena itu, masa depan wayang bukan hanya berada di tangan dalang atau seniman. Ia juga berada di tangan anak muda yang memegang smartphone.

Jika suatu hari generasi baru tidak lagi mengenal tokoh, cerita dan filosofi pewayangan, mungkin yang hilang bukan hanya sebuah seni pertunjukan.

Kita kehilangan salah satu cara untuk membaca diri sendiri.

Sebab wayang sejak dahulu bukan hanya tontonan.

Ia adalah cermin. Persoalannya sekarang, apakah generasi berikutnya masih diberi kesempatan untuk melihat dirinya di sana? (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
Gen Z media sosial budaya seni budaya wayang