MEMBACA Kho Ping Hoo, mula-mula saya terpikat oleh pertarungan dan adu jurus antara para pendekar sakti dan penjahat keji. Kisah petualangan yang membawa para tokohnya dari satu tempat ke tempat lain membuat cerita-ceritanya semakin menarik untuk diikuti.
Karena itu, ketika 17 Agustus 2026 menandai seratus tahun kelahiran Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo, yang terbayang dalam ingatan saya bukan siapa pendekar paling sakti atau jurus mana yang paling hebat. Saya justru teringat pada manusia-manusia yang pernah ia ciptakan.
Mereka bukan sekadar pendekar atau penjahat. Mereka bisa sabar atau pemarah, mencintai atau kecewa. Mereka bisa berbuat salah, menyesal, mengkhianati, atau dikhianati. Setelah jatuh dan kehilangan, mereka berusaha bangkit kembali. Ada beragam tokoh dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Seorang pendekar bisa memiliki ilmu tinggi, tetapi belum tentu sanggup mengendalikan diri. Ada yang menang dalam pertarungan, tetapi hatinya hangus dibakar oleh api dendam. Ada pula tokoh yang tampak lemah dan biasa saja, tetapi justru memiliki kegagahan luar biasa.
Dalam berbagai serial ceritanya, Kho Ping Hoo kerap menyelipkan nasihat:
“Yang baik atau jahat bukanlah ilmunya, bukanlah alatnya, melainkan manusianya. Dan betapa pun tinggi ilmu, betapa pun baiknya, apa artinya apabila ilmu tidak diamalkan untuk berbuat kebaikan? Ilmu yang dipergunakan untuk berbuat jahat, akhirnya akan mencelakakan manusianya sendiri.”
Kita mungkin tidak membawa pedang atau bertarung di tengah rimba, tetapi setiap hari menghadapi pertarungan sendiri: menahan amarah, menjaga kepercayaan, menghadapi godaan, dan memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan orang lain. Bukan ilmu atau kekuatan yang menentukan, melainkan bagaimana seseorang menggunakannya.
Bu Kek Siansu dan Arti Sebuah Kebijaksanaan
Di tengah dunia persilatan yang dipenuhi pendekar yang ingin menunjukkan kehebatan, Bu Kek Siansu justru menyembunyikan kesaktiannya. Ia tidak menjadikan kekuatan sebagai alasan untuk mencari pengakuan atau menempatkan diri lebih tinggi daripada orang lain.
Bu Kek Siansu menarik bukan hanya karena kesaktiannya. Ia digambarkan memiliki kebersihan batin yang khas dan wajar, bukan sesuatu yang dibuat-buat. Ia tidak merasa perlu menunjukkan apa yang dimilikinya kepada orang lain. Sikap semacam ini terasa berkebalikan dengan realitas hari ini. Kita hidup di zaman ketika keberhasilan, pengetahuan, dan kekayaan kerap dipertontonkan. Bu Kek Siansu justru memilih jalan sunyi.
Kho Ping Hoo menjadi bagian penting dari pengalaman membaca beberapa generasi di Indonesia. Ia menulis selama puluhan tahun dan menghasilkan karya dalam jumlah besar. Karya-karyanya masih terus dicari, disimpan, dan dibicarakan. Pengaruh itu tidak cukup dijelaskan dengan jumlah karya. Yang lebih menarik adalah hubungan antara cerita dan pembacanya.
Arus informasi hari ini sederas aliran Sungai Huang-ho. Segalanya datang silih berganti dan berebut perhatian. Di tengah arus yang deras itu, membaca cerita panjang membutuhkan kesabaran: kesediaan untuk duduk, menyimak alur cerita, mengingat tokoh, dan menunggu akhir kisah yang tak selalu bahagia.
Selama masih ada orang yang membaca karyanya, cerita Kho Ping Hoo akan terus hidup. Para pendekar di dunia kangouw tidak pernah benar-benar mati. Mereka masih berjalan di halaman-halaman yang pernah ditulisnya; masih bertarung, mencintai, kecewa, mencari kebenaran, melakukan kesalahan, dan menghadapi akibat dari pilihan mereka.
Seratus tahun Kho Ping Hoo bukan sekadar mengenang kelahiran seorang pengarang besar Indonesia. Ini adalah kesempatan untuk membuka kembali kisah-kisah para pendekar yang pernah mewarnai imajinasi pembacanya.
Ada satu hal yang layak ditanyakan kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi manusia yang lebih baik setelah memperoleh begitu banyak pengalaman?
Tidak perlu menjawabnya dengan tergesa. Cukup buka kembali salah satu serial cerita karya Kho Ping Hoo. Baca beberapa halaman. Lalu biarkan para pendekar gagah itu berpetualang di dalam ingatan kita. (*)
Editor : AA ArsyadaniSumber : Radar Madiun