Jawa Pos Radar Madiun – Menjadi penonton wayang bukan sekadar datang, duduk, menikmati pertunjukan, kemudian pulang.
Di balik sebuah pagelaran, penonton memiliki posisi penting dalam membentuk suasana sekaligus menjaga hidupnya kesenian tersebut.
Wayang memang membutuhkan dalang, sinden, pengrawit, gamelan, wayang, panggung, hingga kru yang bekerja di belakang layar.
Namun, pertunjukan juga membutuhkan masyarakat yang bersedia datang, memberikan apresiasi, dan menjaga suasana.
Karena itu, kecintaan terhadap wayang tidak cukup ditunjukkan hanya dengan mengaku sebagai penggemar.
Memiliki foto bersama dalang, mengikuti media sosial seniman, atau hadir dalam pertunjukan besar memang dapat menjadi bagian dari kecintaan terhadap wayang.
Namun, ada hal yang lebih mendasar: bagaimana seorang penonton memperlakukan kesenian yang sedang disaksikannya.
Baca Juga: Hasil Kualifikasi MotoGP Spanyol 2026 di Aragon: Marco Bezzecchi Pole, Marc Marquez P2
Penonton Dahulu Mengenal Tata Krama
Dalam tradisi pertunjukan Jawa, hubungan antara seniman dan penonton sejak lama tidak semata-mata bersifat transaksional. Ada tata krama yang tumbuh dalam hubungan keduanya.
Penonton datang bukan hanya mencari hiburan. Mereka juga membawa penghormatan terhadap karya dan orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan.
Ketika dalang memainkan lakon, pengrawit menabuh gamelan, dan sinden melantunkan tembang, penonton turut menjadi bagian dari atmosfer yang tercipta.
Zaman kemudian berubah. Pertunjukan wayang kini berada di tengah masyarakat digital dengan telepon genggam, kamera, dan media sosial yang hampir selalu menyertai penonton.
Perubahan tersebut tidak semestinya dipandang sebagai ancaman. Teknologi justru dapat membuka jalan agar pertunjukan wayang semakin dikenal generasi muda.
Namun, kemajuan teknologi tetap perlu berjalan beriringan dengan etika.
Sebab, ukuran kecintaan terhadap budaya pada akhirnya bukan hanya seberapa sering seseorang datang menonton. Melainkan juga bagaimana dia menghormati seniman dan menjaga martabat pertunjukan yang dicintainya. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani