Jawa Pos Radar Madiun – Wayang bukan benda museum yang hanya disimpan dan sesekali diperlihatkan. Wayang merupakan kesenian hidup yang tumbuh melalui hubungan antara seniman dan masyarakat.
Karena itu, kelestarian wayang tidak hanya menjadi tanggung jawab dalang, seniman, komunitas budaya, maupun pemerintah. Penonton juga memiliki peran besar dalam ekosistem tersebut.
Dalang membutuhkan penonton. Penonton membutuhkan karya. Sementara sebuah karya membutuhkan ruang agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Posisi penonton wayang pun menjadi penting.
Ketika penonton tertib, menghargai pertunjukan, memberikan apresiasi dengan cara yang pantas, serta menyebarkan informasi mengenai kesenian secara positif, mereka sesungguhnya ikut merawat kebudayaan.
Baca Juga: 5.000 Penari Teguhkan Madiun Kota Budaya, Gerakan Warga Bikin Wawali Pekalongan Kepincut
Dari Penggemar Menjadi Penjaga Budaya
Cara pandang terhadap status sebagai penggemar wayang juga perlu berkembang. Bukan hanya bangga mengatakan menyukai wayang atau mengidolakan seorang dalang, tetapi juga memahami perjuangan para seniman di balik panggung.
Perbedaannya mungkin terlihat sederhana, tetapi mencerminkan perubahan sikap.
Penggemar dapat berhenti pada tahap menikmati. Sementara orang yang benar-benar mencintai kesenian wayang akan berusaha ikut menjaga martabat budaya yang dicintainya.
Caranya tidak selalu melalui tindakan besar. Duduk tertib, menikmati pertunjukan tanpa mengganggu orang lain, menghargai kerja seniman, serta menggunakan media sosial untuk mengenalkan kesenian secara positif sudah menjadi bagian dari upaya tersebut.
Uang yang dikeluarkan mungkin dapat membeli tiket atau tempat untuk menyaksikan pertunjukan. Namun, sikap penonton ikut menentukan bagaimana martabat kesenian dipertahankan.
Pada akhirnya, sebuah pertunjukan tidak hidup hanya karena ada orang di atas panggung. Ia hidup karena ada masyarakat yang bersedia datang, menyaksikan, memahami, menghormati, kemudian mewariskannya kepada generasi berikutnya. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani