Jawa Pos Radar Madiun – Pertunjukan wayang kulit bukan hanya soal tokoh, peperangan, gamelan, maupun kepiawaian seorang dalang memainkan lakon.
Di balik kelir yang terbentang dan cahaya blencong yang menghidupkan bayangan wayang, tersimpan pula tradisi yang telah diwariskan lintas generasi.
Salah satunya adalah sajen dalam pertunjukan wayang.
Bagi sebagian orang, sajen mungkin terlihat sebagai kumpulan makanan, bunga, air, atau hasil bumi yang ditempatkan di sekitar arena pertunjukan.
Namun dalam cara pandang budaya Jawa, keberadaannya dapat dibaca jauh lebih dalam.
Sajen menjadi bahasa simbolik untuk mengungkapkan rasa syukur manusia terhadap kehidupan, rezeki, keselamatan, dan berbagai anugerah yang diterimanya.
Manusia hidup karena memperoleh kehidupan.
Manusia dapat bekerja karena memiliki kekuatan. Sementara makanan yang dikonsumsi sehari-hari berasal dari alam yang menyediakan berbagai sumber pangan.
Dari kesadaran itulah muncul filosofi sajen Jawa sebagai salah satu bentuk simbol rasa syukur.
Sajen Bukan Sekadar Makanan
Keberadaan makanan dan hasil bumi dalam sajen tidak harus dipahami sebagai benda yang berdiri sendiri. Berbagai benda tersebut merupakan simbol yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Ada beras, pisang, jagung, kelapa, bunga, air, hingga aneka makanan lainnya.
Setiap unsur dapat memiliki tafsir yang berbeda, bergantung pada tradisi, daerah, maupun konteks upacara yang menyertainya.
Karena itu, tidak tepat apabila seluruh sajen dalam kebudayaan Jawa dianggap selalu memiliki satu arti yang sama.
Meski tafsirnya beragam, terdapat benang merah yang cukup kuat. Yakni hubungan antara manusia dengan Tuhan, alam, sesama manusia, serta kesadaran untuk mensyukuri kehidupan.
Baca Juga: Pabrik Tekstil Asal Tiongkok Lirik Kabupaten Madiun, Siap Serap 6.000 Pekerja
Hubungannya dengan Dunia Pedalangan
Dalam tradisi wayang kulit, seorang dalang tidak hanya berhadapan dengan tokoh wayang dan seperangkat gamelan.
Ia berada di tengah tradisi panjang yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Kelir menjadi semacam ruang simbolis untuk menggambarkan perjalanan kehidupan manusia.
Di sana terdapat raja, rakyat, kesatria, pendeta, punakawan, hingga tokoh antagonis. Lakonnya menggambarkan kelahiran, perjalanan, konflik, kehilangan, kemenangan, bahkan kematian.
Sajen yang hadir di lingkungan pertunjukan kemudian dapat dibaca sebagai pengingat bahwa seluruh perjalanan manusia tidak terlepas dari sumber kehidupannya.
Wayang menggambarkan bagaimana manusia menjalani kehidupan. Sedangkan sajen mengingatkan manusia agar tidak lupa mensyukuri kehidupan tersebut.
Dari Sajen, Manusia Belajar Bersyukur
Jika ditarik pada makna paling sederhana, makna sajen dalam budaya Jawa adalah kesadaran bahwa manusia menerima sesuatu lalu mensyukurinya.
Menerima kehidupan, bersyukur. Mendapat makanan, bersyukur. Mendapat kesehatan dan kesempatan bekerja, juga bersyukur.
Rasa syukur tersebut kemudian diwujudkan melalui simbol-simbol yang mudah dikenali oleh masyarakat pada zamannya.
Karena itulah sajen juga menyimpan nilai pendidikan.
Generasi sekarang dapat membacanya sebagai pengingat bahwa hidup tidak semata-mata tentang mengambil dan menggunakan sesuatu.
Ada kewajiban menghargai, menjaga, dan mensyukuri apa yang sudah diterima.
Di balik kelir terdapat cerita tentang manusia. Sementara di balik sajen tersimpan kesadaran manusia tentang sumber kehidupannya.
Keduanya bertemu dalam satu pesan sederhana. Yakni manusia perlu selalu eling, memahami asal kehidupan, dan bersyukur kepada Gusti Kang Maha Kuwasa. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani