Makna Pisang, Beras, dan Jagung dalam Sajen Jawa, Ternyata Bukan Sekadar Makanan

Ki Damar • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:23 WIB
Ilustrasi aneka bentuk sesajen dalam tradisi budaya Jawa.
Ilustrasi aneka bentuk sesajen dalam tradisi budaya Jawa.

Jawa Pos Radar Madiun – Pisang, beras, jagung hingga kelapa kerap dijumpai dalam berbagai bentuk sajian tradisional masyarakat Jawa.

Benda-benda yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari tersebut bukan semata-mata ditempatkan sebagai makanan.

Dalam pembacaan budaya, berbagai hasil bumi itu dapat mengandung simbol tentang kehidupan, penghidupan, serta rasa syukur.

Termasuk ketika digunakan sebagai bagian dari sajen dalam tradisi Jawa.

Filosofi Pisang dalam Sajen

Pisang merupakan salah satu hasil bumi yang cukup sering dijumpai dalam berbagai tradisi masyarakat Jawa.

Dalam konteks sajen, pisang dapat dibaca sebagai simbol hasil bumi yang diberikan kepada manusia untuk menopang kehidupannya.

Ada pula pelajaran dari cara pohon pisang tumbuh.

Pohon tersebut tumbuh, berkembang, menghasilkan buah, lalu kembali menjadi bagian dari siklus alam. Dari pohon yang sama kemudian muncul tunas baru.

Siklus tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kehidupan selalu berjalan.

Manusia merupakan bagian dari alam dan bukan penguasa mutlak atas semua yang ada di dalamnya.

Karena itu, makna pisang dalam sajen tidak harus dipahami sebagai benda yang memiliki kekuatan tertentu.

Pisang dapat dipandang sebagai simbol rasa syukur terhadap hasil kehidupan yang diperoleh dari alam atas kehendak Tuhan.

Baca Juga: Mengapa Ada Sajen dalam Pertunjukan Wayang? Ini Makna dan Filosofi di Baliknya

Beras Mengingatkan Asal Sepiring Nasi

Beras menempati posisi penting dalam kehidupan masyarakat Jawa karena menjadi salah satu pangan pokok.

Karena itulah keberadaannya dalam sajen memiliki kaitan yang sangat dekat dengan kebutuhan paling mendasar manusia.

Makna beras dalam sajen dapat mengingatkan bahwa sepiring nasi yang dikonsumsi setiap hari tidak hadir begitu saja.

Ada tanah yang ditanami, air yang mengairi, sinar matahari yang membantu tanaman tumbuh, hingga petani yang bekerja.

Beras kemudian menjadi simbol agar manusia tidak melupakan sumber penghidupannya.

Di dalamnya tersimpan pesan mengenai rasa cukup sekaligus rasa syukur terhadap makanan yang tersedia.

Baca Juga: Penerima Bantuan Pangan di Pacitan Tembus 92.256 Orang, Penyaluran Baru 50 Persen

Jagung dan Kekayaan Alam

Selain beras dan pisang, jagung juga menjadi salah satu hasil bumi yang dapat ditemukan dalam berbagai sajian tradisional.

Jagung menggambarkan kekayaan alam yang dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Filosofi jagung dalam sajen juga memperlihatkan kedekatan masyarakat Jawa dengan lingkungan.

Masyarakat sejak dahulu memahami bahwa kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari tanah, air, tumbuhan, hewan, serta berbagai unsur alam di sekelilingnya.

Manusia boleh mengambil hasil bumi untuk bertahan hidup.

Namun, manusia juga mempunyai kewajiban menjaga tanah dan alam tempat sumber kehidupan tersebut tumbuh.

Bahasa Simbol dalam Kehidupan

Pisang, beras, jagung, dan hasil bumi lainnya pada akhirnya menjadi bahasa simbolik.

Sesuatu yang sulit disampaikan hanya melalui ucapan diwujudkan menggunakan benda-benda yang dikenal dan digunakan dalam keseharian.

Karena itu, makna setiap unsur tidak selalu sama antara satu tradisi dan tradisi lain.

Tafsirnya dapat berbeda sesuai daerah, kebiasaan, serta konteks upacara.

Namun, hasil bumi yang digunakan tetap memperlihatkan satu kesadaran penting: kehidupan manusia sangat bergantung pada sesuatu di luar dirinya.

Dari tanah tumbuh tanaman. Dari tanaman tersedia makanan. Dari makanan manusia mendapatkan tenaga untuk meneruskan kehidupan.

Itulah sebabnya sajen dalam tradisi Jawa juga dapat dipahami sebagai pengingat sederhana untuk tidak melupakan asal-usul sumber kehidupan dan senantiasa mensyukurinya. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
filosofi beras jawa wayang sesajen