Jawa Pos Radar Madiun – Beras berasal dari sawah. Jagung tumbuh dari tanah. Pisang dan kelapa berasal dari tumbuhan. Sementara air menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.
Hampir semua unsur yang ditemukan dalam berbagai tradisi sajen memiliki hubungan erat dengan alam.
Termasuk yang acap digunakan dalam pertunjukan wayang.
Dari sinilah sajen dan kearifan ekologis Jawa dapat dibaca melalui sudut pandang yang lebih luas.
Sajen tidak sebatas kumpulan makanan atau benda yang diletakkan dalam sebuah prosesi. Di baliknya terdapat kesadaran bahwa manusia sangat bergantung pada lingkungan di sekitarnya.
Manusia Tidak Bisa Hidup Sendiri
Masyarakat agraris Jawa memiliki hubungan yang kuat dengan tanah dan alam.
Tanah menjadi tempat tumbuh tanaman. Air dibutuhkan untuk menghidupi sawah. Matahari membantu tanaman berkembang, sementara manusia mengolah untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Kesadaran itu kemudian tercermin melalui berbagai simbol dalam tradisi sajen Jawa.
Hasil bumi yang disajikan dapat menjadi pengingat bahwa manusia bukan satu-satunya unsur yang menentukan kehidupan.
Ada alam yang menopang kehidupan dan ada Tuhan sebagai sumber dari segala sesuatu.
Baca Juga: Mengapa Ada Sajen dalam Pertunjukan Wayang? Ini Makna dan Filosofi di Baliknya
Jangan Hanya Mengambil dari Alam
Salah satu pesan yang dapat dibaca dari tradisi tersebut adalah pentingnya keseimbangan.
Manusia memang mengambil hasil alam untuk makan, bekerja, dan melanjutkan kehidupannya.
Namun, hubungan itu tidak seharusnya hanya berjalan satu arah.
Manusia juga memiliki tanggung jawab menjaga tanah, air, tumbuhan, dan lingkungan tempat kehidupannya bergantung.
Dari sudut pandang ini, filosofi sajen dan alam dapat menjadi pengingat agar manusia tidak bersikap serakah.
Apabila alam terus dieksploitasi tanpa upaya menjaga keseimbangannya, sumber kehidupan tersebut pada akhirnya dapat mengalami kerusakan.
Baca Juga: Sopir Mengantuk, Mobil Hantam Pohon di Pacitan, Bocah 11 Tahun Selamat
Rasa Syukur Tidak Berhenti pada Ucapan
Sajen juga dapat dimaknai sebagai ekspresi rasa syukur.
Manusia menerima makanan lalu bersyukur. Mendapat kehidupan lalu bersyukur. Memperoleh kesehatan, pekerjaan, dan hasil bumi juga disyukuri.
Namun, rasa syukur dalam budaya Jawa tidak harus berhenti pada simbol maupun ucapan.
Syukur juga dapat diwujudkan melalui sikap menjaga apa yang telah diterima.
Jika manusia bersyukur atas air, maka air perlu dijaga.
Jika manusia bersyukur atas tanah yang memberikan makanan, maka tanah juga tidak semestinya dirusak.
Begitu pula dengan tumbuhan, hewan, serta lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan.
Sajen dan Kesadaran Manusia
Pada akhirnya, nilai terpenting dalam sajen bukan semata benda yang diletakkan di dalamnya. Yang lebih penting adalah kesadaran manusia di balik simbol-simbol tersebut.
Sajen dapat menjadi pengingat bahwa manusia bukan satu-satunya kekuatan dalam kehidupan.
Ada Tuhan sebagai sumber kehidupan, ada alam sebagai tempat hidup, dan ada sesama manusia yang saling membutuhkan.
Itulah sebabnya memahami sajen tidak perlu berhenti pada pertanyaan mengenai apa saja isinya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah nilai apa yang hendak diwariskan melalui tradisi tersebut.
Jawabannya dapat ditemukan dalam hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan: rasa syukur, penghormatan, kesadaran, keseimbangan, dan tanggung jawab.
Dalam konteks pertunjukan wayang, pesan tersebut bahkan menjadi semakin menarik.
Wayang berbicara mengenai perjalanan manusia melalui tokoh dan lakon. Sementara sajen dapat menjadi pengingat mengenai hubungan manusia dengan sumber kehidupannya.
Di balik kelir terdapat gambaran perjalanan manusia. Di balik sajen terdapat kesadaran untuk tidak melupakan Tuhan, alam, dan kehidupan yang telah diterima.
Pesannya tetap relevan hingga sekarang, yakni mengambil secukupnya, menjaga keseimbangan, dan tidak melupakan rasa syukur. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani