Jawa Pos Radar Madiun - Tuntutan zaman rupanya membawa dampak nyata pada pola perilaku masyarakat dalam menikmati kesenian tradisional.
Saat ini, motivasi masyarakat yang datang berbondong-bondong ke lokasi pertunjukan wayang kulit telah jauh bergeser.
Penonton masa kini tidak lagi duduk di depan kelir semata-mata untuk mencari wejangan atau merenungkan makna kehidupan.
Mayoritas dari mereka datang murni untuk bersenang-senang, tertawa lepas, dan menikmati alunan musik yang meriah.
Banyak juga yang hadir sekadar untuk melihat kepiawaian dalang idolanya atau sekadar ajang kumpul meramaikan hajatan desa.
Menjadikan wayang sebagai hiburan tentu bukanlah sebuah kesalahan fatal yang harus dimusuhi oleh para pelestari budaya.
Wayang memang dituntut untuk tampil menghibur agar tetap relevan dan tidak ditinggalkan oleh penontonnya.
Namun, hiburan seharusnya diposisikan sebagai kendaraan penyampai pesan luhur, bukan malah menggantikan nilai-nilai tersebut secara keseluruhan.
Baca Juga: Karhutla Gunung Lawu, Jalur Cemoro Sewu Ditutup hingga Waktu Belum Ditentukan
Bahaya Dominasi Elemen "Hura-Hura"
Kritik terhadap wajah wayang masa kini mulai sering disuarakan oleh para pengamat budaya.
Tidak bisa dimungkiri, tren pagelaran wayang sekarang memang lebih sering menonjolkan sisi kemeriahan ketimbang kedalaman cerita.
Tata suara atau musik pengiring sengaja diperbesar, sementara panggung didesain sedemikian spektakuler bak konser musik pop.
Porsi lawakan atau adegan humor sering kali diperpanjang secara berlebihan demi memancing tawa penonton.
Ironisnya, bagian humor dan interaksi dengan sinden ini sering kali jauh lebih ditunggu ketimbang penyelesaian konflik inti cerita.
Kemeriahan ini memang sukses membuat suasana panggung menjadi sangat hidup dan menarik minat masyarakat luas.
Tetapi, ada sebuah pertanyaan mendasar yang perlu diajukan kepada para pelaku seni dan penikmatnya.
Setelah pertunjukan semalam suntuk itu selesai, bekal apa yang sebenarnya dibawa pulang oleh para penonton ke rumah?
Apakah mereka hanya mendapatkan kepuasan sesaat berupa rasa senang karena tertawa terbahak-bahak?
Ataukah yang tersisa di kepala penonton hanyalah ingatan tentang paras cantik sinden dan kelucuan sang pelawak?
Baca Juga: Daftar Aplikasi Berbahaya untuk Anak Versi Komdigi: Valorant, Pinterest, dan Telegram Zona Merah
Menjaga Tiga Pilar Pewayangan
Hilangnya nilai pesan moral ini jelas menjadi ancaman serius bagi kelestarian esensi wayang di masa depan.
Kajian Suyami terkait pewayangan mengingatkan kembali bahwa wayang sejatinya memiliki fungsi edukasi, estetika, sekaligus penerangan.
Dalam ulasannya, ia mencatat adanya kecenderungan kuat bahwa wayang saat ini terjebak sekadar memenuhi hasrat tontonan semata.
Padahal, wayang di masa lampau mampu mengajak penontonnya untuk merenungkan asal-usul kehidupan (sangkan paraning dumadi).
Kesenian ini selalu berhasil menyelipkan diskusi soal tanggung jawab, keadilan, kesetiaan, dan pengendalian diri tanpa terkesan menggurui.
Harapannya, pagelaran wayang tetap memegang teguh tiga pilar utamanya, yakni sebagai tontonan, tuntunan, sekaligus tatanan.
Tontonan memastikan wayang tetap menarik, sementara tuntunan menjamin tersampaikannya nilai budi pekerti.
Sedangkan pilar tatanan berfungsi untuk memastikan nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat.
Jangan sampai wayang berakhir hanya menjadi panggung hiburan semalam suntuk yang ramai di panggung, namun sepi di dalam makna. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani