Jawa Pos Radar Madiun - Perdebatan mengenai pergeseran nilai dalam pertunjukan wayang sering kali berujung pada keinginan untuk bernostalgia.
Namun, memaksa wayang untuk sepenuhnya kembali ke format klasik di masa lalu jelas bukan solusi yang relevan.
Wayang pada dasarnya adalah entitas kesenian yang hidup dan bernapas bersama masyarakat pendukungnya.
Oleh karena itu, kesenian ini harus selalu mampu beradaptasi dan berbicara dengan bahasa generasi penerusnya.
Modernisasi tidak perlu dipandang sebagai musuh yang mengancam kelestarian pakem pewayangan.
Sah-sah saja jika sebuah pagelaran wayang memanfaatkan kecanggihan tata cahaya modern atau perangkat suara berteknologi tinggi.
Dalang pun diperbolehkan menggunakan tambahan instrumen musik modern atau mengangkat isu-isu sosial yang sedang viral.
Bahkan, kolaborasi wayang dengan musik kekinian atau kehadirannya di ranah media sosial merupakan langkah positif.
Satu-satunya aturan tak tertulis yang tidak boleh dilanggar adalah membiarkan roh dan jiwa wayang tersebut menghilang.
Baca Juga: Enam Lahan Terbakar Sehari di Kota Madiun, Dua Bulan Sudah 41 Kasus
Menjadi Cermin Kehidupan Manusia
Pentingnya menjaga roh atau jiwa dari kesenian wayang ini pernah diulas secara mendalam oleh filsuf Franz Magnis-Suseno.
Ia memandang bahwa kekuatan utama wayang sama sekali tidak terletak pada kemewahan panggung atau merdunya gamelan.
Kekuatan paling fundamental dari kesenian ini justru terletak pada kemampuannya dalam membicarakan kompleksitas sifat manusia.
Wayang dapat difungsikan sebagai cermin raksasa untuk membedah konsep kebaikan dan keburukan dalam kehidupan nyata.
Melalui tokoh-tokohnya, manusia diajak berdialog soal kekuasaan, tanggung jawab sosial, hingga pencarian harmoni hidup.
Jika kemampuan reflektif ini sampai hilang, maka pertunjukan wayang tak ubahnya seperti cangkang kosong tak berisi.
Kelir mungkin masih terpasang, boneka kulit masih ada, dan suara gamelan tetap bertalu-talu mengiringi dalang.
Namun, ruh pemikiran dan kedalaman makna filosofisnya dipastikan akan perlahan punah ditelan kemeriahan semu.
Modernisasi seharusnya hanya mengubah metode atau cara penyampaian cerita, bukan membunuh pesan luhur di dalamnya.
Baca Juga: Prabowo Dijadwalkan Hadiri Seabad Gontor, 15 Duta Besar Negara Sahabat Turut Diundang
Tantangan Murni Seorang Dalang
Di titik krusial inilah tantangan terberat seorang dalang di era modern benar-benar diuji kemampuannya.
Dalang masa kini tidak lagi sekadar dituntut untuk mahir memegang gagang wayang dan menghafal jalan cerita.
Mereka diwajibkan memiliki kepekaan tinggi untuk membaca arah zaman tanpa melacurkan idealisme seni.
Elemen komedi atau lawakan tentu boleh dihadirkan untuk memecah ketegangan, namun jangan sampai mendominasi seluruh pertunjukan.
Adegan gara-gara boleh dikemas semeriah mungkin untuk menghibur penonton yang mulai mengantuk.
Namun, setelah penonton puas tertawa, sang dalang harus segera menarik mereka kembali ke dalam perenungan melalui sisipan pesan moral.
Wayang yang sehat adalah pertunjukan yang cerdas menggunakan hiburan sebagai alat pengantar tuntunan hidup.
Ini menjadi tugas terbesar dunia pedalangan masa kini yang harus segera dijawab dengan karya nyata.
Yakni, bagaimana membuat masyarakat datang ke panggung karena ingin terhibur, namun pulang ke rumah dengan membawa kebijaksanaan. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani