Bharatayuda Pindah ke Medsos! Siapa Sosok Pandawa dan Kurawa di Era Digital?

Ki Damar • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 16:47 WIB
Ilustrasi para tokoh wayang dalam sebuah peperangan. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi para tokoh wayang dalam sebuah peperangan. (RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Jika kita membaca kembali lembaran kisah epik Mahabharata, akhir ceritanya sudah bisa ditebak oleh siapa saja.

Kubu Pandawa selalu keluar sebagai pemenang mutlak karena mereka berdiri tegak di atas prinsip kebenaran dan dharma.

Sementara itu, pihak Kurawa pada akhirnya harus menelan pil pahit kekalahan karena sifat serakah dan kelicikan mereka sendiri.

Namun, mari kita coba membayangkan sebuah skenario alternatif yang lebih modern dan relevan dengan realitas kita hari ini.

Bagaimana jadinya jika perang besar Bharatayuda itu dipindahkan ke tahun 2026?

Medan pertempurannya tentu bukan lagi Padang Kurukshetra yang berdebu, melainkan beralih ke timeline, halaman FYP, dan kolom komentar.

Di medan pertempuran virtual inilah, narasi klasik tentang kemenangan mutlak sebuah kebenaran bisa saja berbalik seratus delapan puluh derajat.

Baca Juga: Cuaca Panas Ekstrem, Benarkah Es Teh Manis dan Kopi Justru Bikin Tubuh Semakin Haus?

Mendefinisikan Ulang Pandawa dan Kurawa

Di era media sosial yang serba cepat ini, kita harus membuang jauh-jauh pemikiran hitam-putih tentang tokoh pewayangan.

Jangan lagi membayangkan Kurawa murni sebagai entitas penjahat kejam, dan Pandawa sebagai sosok suci tanpa celah.

Di arena media sosial, pertarungan yang terjadi bukanlah sekadar soal siapa yang baik dan siapa yang jahat.

Ini adalah murni tentang taktik, penguasaan medan, dan bagaimana cara pihak-pihak tersebut bertarung merebut atensi publik.

Dalam konteks kekinian, "Kurawa" adalah representasi dari kelompok yang sangat memahami cara kerja mesin algoritma.

Jumlah mereka di dunia maya sangatlah masif, pergerakannya terorganisasi dengan sangat rapi, dan berada di bawah satu garis komando yang jelas.

Bagi kelompok Kurawa ini, kebenaran bukanlah tujuan utama yang harus dicapai dalam sebuah diskursus publik.

Mereka hanya butuh keramaian dan kehebohan; satu isu dilempar ke publik, ratusan akun anonim langsung mengamini, dan ribuan lainnya membagikan.

Narasi publik akhirnya terbentuk bukan dari kekuatan argumentasi, melainkan dari dominasi kuantitas yang terus-menerus dijejalkan ke layar gawai kita.

Baca Juga: Gaji PPPK 2027 Resmi Ditanggung APBN Rp 23 Triliun, Pemda Bisa Bernapas Lega

Kesatria yang Bertarung Sendirian

Di sisi seberang, ada kelompok "Pandawa" masa kini yang mewakili pihak-pihak dengan keyakinan akan nilai kebenaran.

Mereka merasa logikanya jauh lebih kuat, data yang disajikan lebih valid, dan posisi moralnya lebih tinggi dari siapa pun.

Sayangnya, kelompok Pandawa ini memiliki kelemahan yang sangat fatal: mereka lebih sering bertarung sendirian tanpa koordinasi.

Mereka datang ke medan perang digital dengan membawa utas panjang, rentetan klarifikasi empiris, dan tumpukan fakta lapangan.

Namun celakanya, mereka kerap datang terlambat saat isu sudah membesar, bergerak secara terpisah-pisah, dan akhirnya kelelahan sendiri.

Kubu Kurawa sangat cerdik dengan memainkan taktik pengeroyokan opini yang terstruktur.

Sementara itu, Pandawa masih bersikeras menggunakan tata krama kesatriaan yang kaku dan sudah tidak relevan dengan zaman.

Fakta pahit yang harus diakui saat ini adalah, di rimba media sosial, taktik pengeroyokan hampir selalu keluar sebagai pemenang. (*)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
Bharatayuda kurawa Pandawa media sosial