Algoritma Suka Keributan? Ini Rahasia Mengapa Kurawa Selalu Menang Telak di Media Sosial

Ki Damar • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 18:58 WIB
Ilustrasi lakon wayang Pandawa Sinangsaya.
Ilustrasi lakon wayang Pandawa Sinangsaya.

Jawa Pos Radar Madiun - Pernahkah Anda bertanya-tanya, mengapa konten yang memicu amarah dan perdebatan justru lebih cepat viral?

Di era digital saat ini, pihak yang membawa narasi kebenaran atau "Pandawa" sering kali harus rela babak belur di media sosial.

Mereka kerap kalah telak oleh kubu "Kurawa" yang lebih pandai memainkan sentimen emosional publik demi meraup atensi.

Kekalahan narasi kebenaran di dunia maya ini sejatinya bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan hasil dari cara kerja ekosistem digital itu sendiri.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa gerombolan Kurawa nyaris selalu memenangkan pertempuran opini di platform X, TikTok, maupun Instagram.

Baca Juga: Pacitan Diproyeksikan Jadi Simpul Ekonomi Selatan Jatim, Pariwisata Bahari hingga Perikanan Jadi And

Algoritma Membenci Sesuatu yang Membosankan

Alasan pertama dan yang paling utama adalah karakter dari algoritma media sosial itu sendiri yang sangat menyukai keributan.

Harus diakui, dari kacamata mesin pencari atensi, kebenaran adalah sebuah entitas yang sangat membosankan.

Konten edukasi atau label "cek fakta" nyaris tidak pernah bisa mengalahkan daya ledak engagement dari konten bersampul "skandal besar!".

Mesin algoritma tidak pernah peduli pada nilai-nilai dharma atau kebenaran sejati dari sebuah informasi yang lewat.

Satu-satunya hal yang dipedulikan oleh mesin adalah lamanya waktu tonton (watchtime), jumlah komentar, dan angka share.

Di sinilah letak keunggulan Kurawa; mereka sangat piawai memicu emosi mentah seperti rasa marah, takut, dan benci yang menjadi bensin paling mahal dalam ekonomi atensi.

Selain itu, Kurawa menang karena mereka didukung oleh investasi nyata, seperti pasukan pendengung (buzzer), admin, hingga desainer grafis.

Mereka memiliki puluhan akun pemicu yang siap menaikkan sebuah isu agar langsung memuncaki tangga trending topic.

Sebaliknya, Pandawa masa kini masih terlalu naif karena hanya mengandalkan ketulusan dan organic reach.

Mereka kerap berasumsi bahwa pada akhirnya masyarakat akan sadar dengan sendirinya melihat fakta yang ada.

Padahal, hukum besi media sosial sangatlah kejam: mereka yang memilih diam dan pasif akan dianggap tidak pernah ada eksistensinya.

Baca Juga: Gaji PPPK 2027 Resmi Ditanggung APBN Rp 23 Triliun, Pemda Bisa Bernapas Lega

Menyerang Sosoknya, Bukan Idenya

Perbedaan paling fatal yang membuat Pandawa kerap tersungkur adalah cara mereka merespons sebuah perdebatan opini.

Ketika Pandawa sibuk menyusun argumen yang logis, Kurawa justru tidak akan pernah mau mendebat ide tersebut secara akademis.

Senjata utama Kurawa adalah menghancurkan kredibilitas lawan atau melakukan pembunuhan karakter (character assassination).

Mereka akan menyerang dengan melabeli lawan, seperti "Ah, dia kan buzzer sebelah," atau "Coba lihat track record masa lalunya."

Sekali saja citra personal atau personal branding seseorang berhasil dihancurkan, argumen sebagus dan sevalid apa pun tidak akan laku dijual.

Di saat Pandawa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyusun klarifikasi ilmiah sepanjang 10 paragraf, Kurawa hanya butuh waktu lima menit.

Mereka cukup membuat satu gambar meme satir yang menghina dan merendahkan lawan diskusinya.

Dan pada akhirnya, di layar gawai jutaan netizen, meme receh itulah yang keluar sebagai pemenangnya. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
kurawa Pandawa media sosial Algoritma wayang