Jawa Pos Radar Madiun - Bagi sebagian besar orang yang memiliki niat baik, kolom komentar di media sosial sering kali dianggap sebagai ruang diskusi.
Mereka yang berada di kubu kebenaran atau "Pandawa" kerap masuk ke area tersebut dengan harapan bisa bertukar pikiran secara sehat.
Mereka akan mulai mengetik dengan kalimat sopan seperti, "Namun, menurut data BPS tahun lalu..." dengan niat meluruskan informasi.
Namun tragisnya, belum genap kalimat itu terkirim, mereka sudah diserbu puluhan komentar pedas dari kubu "Kurawa".
Komentar seperti "Kalah debat ya?", "Jilat terus bos", atau "Wkwk kocak" langsung menghujani notifikasi mereka tanpa ampun.
Inilah realitas pahit yang harus disadari; kolom komentar di media sosial saat ini bukanlah sebuah ruang seminar, melainkan arena koloseum yang brutal.
Baca Juga: Susul Apple, Samsung Ikut Pusing Tahan Harga Galaxy S26 di Tengah Kerugian Rp 9 Triliun
Logika yang Kalah oleh Energi Massa
Di dalam hiruk-pikuk kolom komentar, bangunan logika dan data empiris akan selalu hancur lebur jika diadu dengan energi massa.
Siapa yang memiliki pasukan paling banyak, menggunakan bahasa paling kasar, dan paling lucu dalam menghina, dialah yang akan terlihat menang.
Penonton yang kebetulan lewat (netizen netral) tidak punya waktu untuk membaca argumen ilmiah yang panjang lebar.
Mereka hanya membaca vibe atau nuansa dari keributan tersebut.
Ketika mereka melihat pihak Pandawa dihajar dan ditertawakan habis-habisan, kesimpulan instan yang muncul adalah pihak Pandawa pasti salah.
Pandawa kalah telak bukan lantaran argumen yang mereka bawa lemah atau tidak berdasar.
Mereka hancur karena memaksakan diri bertarung di medan berlumpur yang aturan mainnya sengaja dibuat oleh kubu Kurawa.
Baca Juga: Gaji PPPK 2027 Resmi Ditanggung APBN Rp 23 Triliun, Pemda Bisa Bernapas Lega
Taktik Menang Tanpa Menjadi Kurawa
Lantas, apakah ini berarti kita harus menanggalkan moral dan ikut berubah menjadi Kurawa demi meraih kemenangan di dunia maya?
Jawabannya adalah tidak! Pelajaran paling berharga dari epik Mahabharata bukanlah tentang "menang dengan menghalalkan segala cara".
Mahabharata mengajarkan bahwa Kurawa mungkin bisa memenangkan banyak pertempuran kecil dengan tipu daya licik mereka.
Namun pada akhirnya, mereka kalah dalam perang besar karena telah kehilangan legitimasi dan kepercayaan dari semesta.
Kemenangan yang diraih melalui manipulasi algoritma di media sosial adalah sebuah kemenangan yang semu belaka.
Hari ini sebuah akun bisa viral dan dipuja karena berhasil menghina orang lain, namun besok publik akan melupakannya.
Satu hal yang pasti, jejak digital dari kebencian dan caci maki tersebut akan abadi selamanya.
Oleh karena itu, tugas berat Pandawa di era digital ini bukanlah untuk menurunkan level dan meniru kelicikan Kurawa.
Tugas utamanya adalah beradaptasi; mempelajari strategi kekompakan Kurawa namun tanpa harus menjual nilai dharma.
Pertama, kebenaran tidak boleh berserakan; orang-orang baik harus bersatu karena kebenaran yang tidak terorganisasi akan digilas kejahatan yang terstruktur.
Kedua, mulailah mengemas fakta dengan narasi cerita yang menyentuh, karena secara psikologis, manusia lebih suka membagikan cerita ketimbang angka mati.
Terakhir, berhentilah membuang energi berharga di kolom komentar yang penuh jebakan racun.
Menangkanlah pertarungan di ruang utama dengan terus memproduksi konten positif, membangun narasi kebangsaan, dan menciptakan karya nyata. (*)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani