Jawa Pos Radar Madiun – Dalam kehidupan manusia, jabatan sering kali terlihat sebagai sesuatu yang sangat kokoh dan abadi.
Ketika seseorang telah duduk nyaman di kursi kekuasaan, acap kali muncul anggapan bahwa kedudukan itu akan bertahan selama ia mampu menjalankan tugasnya.
Namun, sejarah politik dan kisah pewayangan Nusantara berkali-kali mengingatkan bahwa jabatan hanyalah titipan sementara, sedangkan laku dan dharma seseoranglah yang akan meninggalkan jejak.
Peristiwa pergantian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada September 2026 menjadi pengingat keras bahwa kedudukan dapat berubah dalam waktu yang sangat singkat.
Pada Senin, 14 September lalu, Purbaya masih menjalankan tugas kenegaraannya dan mengikuti rapat bersama DPD RI.
Di tengah berlangsungnya persidangan tersebut, ia tiba-tiba menerima sebuah panggilan telepon krusial yang membuat agenda rapat sempat dihentikan.
Tak berselang lama, Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan yang baru.
Pasca-pemberhentiannya, Purbaya secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya sempat merasa kecewa dan kesal dengan keputusan mendadak tersebut.
Namun, sebagai seorang profesional, ia juga mengaku telah memperkirakan kemungkinan pergantian itu sebelumnya.
Baca Juga: Bharatayuda Pindah ke Medsos! Siapa Sosok Pandawa dan Kurawa di Era Digital?
Pitutur dari Kisah Pembuangan Rama
Peristiwa semacam ini memiliki gema renungan yang sangat kuat apabila ditarik benang merahnya dengan epik kisah Rama dalam Ramayana.
Rama adalah sosok putra mahkota Kerajaan Ayodhya yang telah dipersiapkan dengan matang untuk menduduki takhta.
Namun, ketika hari penobatannya semakin dekat, keadaan istana justru berbalik seratus delapan puluh derajat.
Atas permintaan sang ibu tiri, Dewi Kekayi, dan ikatan janji Prabu Dasarata, Rama justru dipaksa meninggalkan Ayodhya dan harus menjalani masa pembuangan di hutan belantara.
Dari seorang calon raja yang dielu-elukan, seketika ia berubah menjadi orang buangan yang harus pergi meninggalkan kerajaannya.
Meski perubahannya begitu drastis, sosok Rama tidak pernah menjadikan kehilangan kedudukannya sebagai alasan untuk meninggalkan dharma (kewajiban kebaikan).
Ia menerima nasib itu dengan keteguhan hati dan tetap memilih menjalankan kewajiban luhur yang diyakininya benar.
Baca Juga: Filsuf Franz Magnis-Suseno Sebut Wayang Cermin Manusia, Dalang Modern Wajib Paham
Urip Iku Mung Mampir Ngombe
Di sinilah salah satu pitutur penting pewayangan dapat direnungkan: manusia tidak selalu dapat menentukan berapa lama dirinya berada di atas panggung kekuasaan.
Namun, manusia berdaulat penuh untuk menentukan bagaimana ia bersikap ketika panggung itu berubah.
Jabatan dapat diberikan dan dicabut kapan saja. Kekuasaan dapat datang silih berganti.
Akan tetapi, watak, ilmu, pengalaman, dan pengabdian tidak serta-merta menguap hanya karena seseorang tidak lagi duduk di kursi empuknya.
Pewayangan tidak pernah mengajarkan manusia untuk menggantungkan martabat dan harga dirinya pada sebuah singgasana.
Singgasana itu sifatnya sementara, tetapi laku utamalah yang akan menjadi warisan sejati.
Dalam falsafah kehidupan Jawa, kita sangat akrab dengan ungkapan, "Urip iku mung mampir ngombe".
Hidup di dunia ini hanyalah sebentar. Demikian pula halnya dengan sebuah jabatan. Hari ini seseorang memimpin, esok mungkin ia yang akan dipimpin.
Kisah epik ini memberikan satu pitutur sederhana: jangan terlalu tinggi hati ketika mendapatkan kedudukan, dan jangan terlalu rendah diri ketika kehilangan kedudukan.
Sebab dalam jagat kehidupan, yang abadi bukanlah kursi kekuasaan, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan. Jabatan boleh berganti. Amanah boleh berpindah. Namun, dharma jangan sampai berhenti. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani