Jawa Pos Radar Madiun – Di tengah derasnya arus budaya populer, eksistensi wayang dan anak muda zaman sekarang seolah berada di dua dunia yang berbeda.
Anak-anak muda masa kini tumbuh besar berdampingan dengan musik digital, hiruk-pikuk media sosial, konser megah, dan berbagai bentuk hiburan modern lainnya.
Sementara itu, wayang yang pada masa lampau menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat Jawa, kini perlahan mulai terpinggirkan.
Sebagian kalangan, terutama generasi muda, kerap melabeli kesenian ini sebagai sesuatu yang kuno, durasinya terlalu panjang, dan kurang sesuai dengan selera zaman yang serba instan.
Kondisi tersebut tentu memantik sebuah pertanyaan besar bagi kita bersama.
Jika anak muda zaman sekarang semakin jauh dari panggung wayang, lalu siapa yang akan mengambil tongkat estafet untuk mengenalkan dan melestarikan kesenian warisan leluhur itu pada masa mendatang?
Sejatinya, wayang bukan sekadar pertunjukan yang menampilkan kelir, blencong, alunan gamelan, pesinden, dan dalang.
Di balik tokoh-tokoh yang dimainkan, tersimpan ajaran luhur tentang kehidupan.
Ada nilai keberanian, kesabaran, tanggung jawab, kepemimpinan, kesetiaan, pengendalian hawa nafsu, hingga epos pertarungan abadi antara kebajikan melawan keserakahan.
Karena itu, ketika seseorang duduk menonton wayang, sesungguhnya ia tidak hanya sedang mencari hiburan semata, tetapi juga tengah berhadapan dengan berbagai pitutur kehidupan.
Baca Juga: Survei NasDem Cuma 4 Persen, Surya Paloh Berani Usul Parliamentary Threshold 7 Persen
Ketika Perayaan Lebih Memilih Hiburan Modern
Pergeseran selera masyarakat ini sangat kentara terlihat dalam sejumlah acara perayaan di berbagai wilayah.
Pagelaran wayang kulit yang dulunya menjadi primadona hiburan hajatan, kini terkadang mulai tersisih oleh hingar-bingar pertunjukan musik populer, termasuk dangdut.
Dangdut tentu merupakan bagian dari kekayaan musik Indonesia dan memiliki basis penggemar yang masif. Karena itu, persoalannya bukanlah membenturkan atau mempertentangkan wayang dengan dangdut.
Keduanya jelas memiliki ruang masing-masing dalam kehidupan masyarakat kita.
Hal yang perlu menjadi perhatian bersama adalah bagaimana sebuah hiburan diselenggarakan dan bagaimana masyarakat menikmatinya secara bijak.
Sebuah pertunjukan musik tidak dengan sendirinya akan menyebabkan kericuhan, sebagaimana pertunjukan wayang juga tidak otomatis selalu berjalan tertib.
Faktor perilaku penonton, kesiapan pengamanan, ada atau tidaknya konsumsi alkohol, serta manajemen pengelolaan acara sangat menentukan suasana dan kualitas sebuah pertunjukan.
Meski demikian, fenomena pergeseran selera ini patut menjadi bahan renungan.
Menjadi ironi ketika wayang justru dianggap usang dan ditinggalkan, sementara budaya tontonan yang lain diklaim lebih menarik hanya karena dianggap mengikuti perkembangan zaman.
Padahal, menjadi manusia yang mengikuti zaman sama sekali tidak berarti harus tercerabut dan meninggalkan akar budaya bangsanya sendiri. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani