Merawat Identitas Bangsa, Tantangan Gen Z Menghidupkan Wayang di Era Digital

Ki Damar • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 08:58 WIB
Ilustrasi dalang mementaskan lakon wayang (RADAR BONANG)
Ilustrasi dalang mementaskan lakon wayang (RADAR BONANG)

Jawa Pos Radar Madiun – Persoalan terbesar dalam pelestarian budaya sebenarnya bukanlah menuntut agar anak muda zaman sekarang menyukai wayang dengan cara yang persis sama seperti kakek-nenek mereka.

Setiap generasi jelas memiliki selera, gaya, dan cara tersendiri dalam menikmati hiburan. Tidak semua anak muda dituntut untuk fasih menjadi dalang atau betah menggemari pertunjukan wayang semalam suntuk.

Hal yang jauh lebih esensial adalah jangan sampai generasi penerus bangsa ini buta dan tidak mengenal akar budayanya sendiri.

Bagaimanapun, beban pelestarian budaya tidak mungkin selamanya hanya disandarkan di pundak para dalang yang usianya kian sepuh. Tidak mungkin pula kita hanya berpangku tangan mengandalkan dedikasi segelintir seniman tradisional.

Akan tiba suatu masa kelak ketika generasi muda saat ini tumbuh menjadi orang tua, pendidik, pemimpin masyarakat, hingga pembuat kebijakan.

Pada momen krusial itulah, keputusan mereka akan menentukan nasib kebudayaan kita: apakah wayang masih bernapas dan hidup di tengah masyarakat, atau hanya akan berakhir sebagai artefak nama di dalam buku teks sejarah sekolah.

Baca Juga: Awas Inflasi! BPS Catat Harga Pangan Meroket di 319 Daerah, Sulut-Gorontalo Catat Kenaikan Tertinggi

Masih Banyak Anak Muda yang Peduli

Di tengah berbagai kekhawatiran akan lunturnya budaya lokal, nyatanya masih ada secercah harapan yang menggembirakan.

Tidak sedikit anak muda masa kini yang membuktikan kecintaannya terhadap wayang dengan tindakan nyata. Banyak dari mereka yang tekun belajar mendalang, aktif di sanggar seni, piawai menabuh gamelan, hingga kreatif menciptakan konten edukasi wayang di platform media sosial.

Pemerintah daerah pun mulai peka. Pemerintah Kabupaten Tuban, misalnya, pernah menyoroti pentingnya memupuk kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini agar wayang semakin lekat di hati generasi muda.

Nilai-nilai seperti jiwa kepemimpinan dan rasa tanggung jawab yang terkandung kuat dalam epos pewayangan dinilai masih sangat relevan untuk diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat modern.

Artinya, persoalan utamanya bukanlah bahwa generasi muda sudah apatis dan sama sekali tidak mencintai wayang. Tantangan terbesarnya saat ini adalah bagaimana menciptakan ekosistem yang membuat lebih banyak anak muda merasa bahwa wayang adalah bagian dari identitas dan milik mereka seutuhnya.

Baca Juga: Survei NasDem Cuma 4 Persen, Surya Paloh Berani Usul Parliamentary Threshold 7 Persen

Wayang Harus Berani Jemput Bola

Kini, sudah bukan waktunya lagi bagi wayang untuk sekadar pasif menunggu anak muda datang memadati area panggung.

Wayang-lah yang harus berinisiatif hadir dan menyelusup masuk ke dalam dunia mereka.

Masuklah ke ruang-ruang kelas di sekolah. Hadirlah dengan gaya bahasa yang renyah di linimasa media sosial. Berkolaborasilah dengan iringan musik kekinian. Buatlah durasi pertunjukan yang lebih singkat dan padat tanpa harus membuang ruh penceritaannya.

Eksplorasi kreativitas dengan memperkenalkan tokoh-tokoh wayang agar lebih relate dengan masalah keseharian anak muda juga wajib digeber. Ide segar seperti Wayang Ebes menjadi contoh nyata bahwa budaya tradisional sejatinya sangat luwes untuk berdialog dengan gagasan-gagasan baru.

Namun, di tengah segala modernisasi pengemasan tersebut, satu hal pantang untuk dihilangkan: nilai dan jati diri wayang itu sendiri. Modernisasi sama sekali bukan jalan untuk menghapus tradisi, melainkan sebuah jembatan agar tradisi tersebut tetap bisa berbicara lantang merespons perubahan zaman.

Pada akhirnya, pelestarian wayang bukanlah beban tunggal para dalang. Ini adalah tanggung jawab kolektif keluarga, lembaga sekolah, elemen masyarakat, hingga pemerintah.

Kita tentu bebas menyukai musik modern atau menikmati dangdut dan genre lainnya. Namun, jangan sampai demi mengejar euforia hiburan yang baru, kita justru memandang sebelah mata kesenian adiluhung warisan leluhur.

Karena budaya bukan sekadar hiburan pelepas penat. Budaya adalah wajah dan identitas kita. Dan wayang adalah saksi bisu perjalanan panjang nilai-nilai kemanusiaan Nusantara.

Maka, pertanyaan yang patut direnungkan kini bukan lagi "Apakah wayang masih cocok untuk anak muda?", melainkan:

"Maukah anak muda zaman sekarang mengambil bagian agar wayang tetap hidup pada zaman mereka?"

Jika jawabannya adalah "Iya", maka kelir panggung tak akan pernah benar-benar menjadi gelap. Bayangan wayang akan terus bergerak lincah, selama masih ada detak jantung generasi muda yang bersedia menghidupkan dan mencintainya. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
pelestarian wayang dalang anak muda sekolah media sosial