Jawa Pos Radar Madiun – Sebuah pertunjukan wayang kulit tidak pernah benar-benar hidup hanya karena kehadiran dalang dan pengrawit.
Ada satu unsur krusial yang sering kali tidak terlihat, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap hidup matinya pertunjukan.
Unsur tersebut adalah sang penonton.
Penonton datang membawa harapan untuk menikmati alur cerita, sabetan wayang, hingga guyonan yang disajikan di atas panggung.
Menariknya, ketika penonton merasa terhibur, kebahagiaan itu tidak berhenti saat lampu panggung dipadamkan.
Cerita keseruan pertunjukan akan mereka bawa pulang.
Keesokan harinya, seorang penonton mungkin bertemu tetangganya di warung kopi.
Sambil bersantai, ia akan bercerita, “Wayangan wingi apik, dalange lucu, ceritane enak, ora mboseni.”
Baca Juga: Tak Hanya Wayang Tengul, Bersih Desa Rejomulyo Ngawi Tampil Beda dengan Suguhan Kesenian Reog
Dari obrolan sederhana satu orang, rekomendasi itu berpindah dengan cepat kepada orang lain.
Begitu pula di lingkungan keluarga.
Seusai menonton, seseorang bisa menceritakan keseruan pentas kepada kerabat, bahkan membagikan potongan video ke berbagai Grup WhatsApp.
Tanpa disadari, penonton telah menjelma menjadi bagian dari tim promosi seorang dalang.
Sang dalang tidak lagi membutuhkan poster besar, baliho, maupun iklan berbayar yang mahal.
Pengalaman menyenangkan penonton telah berubah menjadi cerita organik dari mulut ke mulut.
Inilah kekuatan promosi yang paling sederhana namun sangat ampuh.
Rekomendasi jujur dari orang yang telah merasakan langsung atmosfer pertunjukan adalah kunci utama keberlanjutan panggung sang dalang. (naz)
Editor : Mizan Ahsani