Seni Membaca Suasana, Kunci Dalang Wayang Bawa Penonton Masuk ke Dalam Cerita

Ki Damar • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 15:21 WIB
Wayang kulit dengan lakon Wahyu Kamulyan dibawakan oleh Ki Dalang Kamsiyanto diiringi tim pengrawit dan sinden.
Wayang kulit dengan lakon Wahyu Kamulyan dibawakan oleh Ki Dalang Kamsiyanto diiringi tim pengrawit dan sinden.

Jawa Pos Radar Madiun – Bagi seorang dalang wayang kulit, penonton bukanlah sekadar orang yang duduk pasif di depan kelir.

Penonton adalah sumber energi utama pementasan.

Ketika penonton tertawa, dalang mendapat respons positif.

Ketika suasana menjadi hening saat adegan menyentuh, dalang tahu bahwa pesan moralnya telah tersampaikan dengan baik.

Semua sorakan dan tepuk tangan itu memberikan suntikan semangat bagi seluruh tim di atas panggung.

Panggung pertunjukan akhirnya berubah menjadi ruang komunikasi dua arah yang hidup.

Dalang berbicara melalui tokoh wayangnya, sementara penonton menjawab melalui reaksi spontan mereka.

Baca Juga: Checkout Belanjaan di Shopee dan Tokopedia Mahal? Ternyata Mulai 1 Oktober Pajak PPH Resmi Berlaku

Oleh karena itu, menguasai panggung adalah kemampuan mutlak bagi seorang dalang profesional.

Namun, menguasai panggung bukan berarti harus selalu membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

Bukan pula berarti setiap menit pementasan harus dijejali dengan guyonan kosong.

Menguasai panggung berarti dalang mampu dan peka dalam membaca suasana.

Dalang harus tahu kapan waktunya serius, kapan menyisipkan humor, hingga kapan harus memacu ketegangan.

Saat adegan perang berlangsung, penonton diajak merasakan tensi tinggi.

Sebaliknya, ketika Punakawan muncul, suasana langsung dicairkan menjadi lebih ringan.

Di sinilah letak ujian sesungguhnya.

Seorang dalang tidak hanya dituntut pandai memainkan sabetan wayang, tetapi juga cerdas berkomunikasi.

Sehebat apa pun lakon yang dibawakan, jika penyajiannya kaku, pesan cerita akan kehilangan daya tariknya. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
dalang Lakon wayang