Jawa Pos Radar Madiun - Wayang mengajarkan satu hal yang jarang kita sadari, bahwa dalam budaya Jawa, diam kerap kali diartikan sebagai bentuk kepatuhan mutlak.
Rakyat diajari untuk selalu nrimo dan sabar, sementara jika pemimpin berbuat salah, rakyat disuruh memahami bahwa itu adalah takdir semata.
Kondisi psikologis inilah yang membuat tokoh licik seperti Sengkuni selalu tampil sebagai pemenang dalam banyak babak kekuasaan.
Sengkuni tidak perlu berteriak, ia hanya perlu berbisik di telinga Duryudana bahwa apa pun yang dilakukan sang raja adalah sebuah kebenaran.
Di Indonesia hari ini, jarak kasta antara penguasa dan rakyat berubah bentuk, meski esensinya tetaplah sama.
Baca Juga: Jadwal Liga Voli Korea Minggu Ini: Kapan Hyundai Hillstate yang Diperkuat Megawati Hangestri Main?
Jika dulu jarak itu berupa singgasana, sekarang menjelma menjadi protokol ketat, pagar beton, mobil berpelat dinas, dan ruang rapat yang steril.
Rakyat tidak lagi menghadap raja di alun-alun, melainkan mengeluh di layar HP dan kolom komentar berharap suaranya ada yang membaca.
Mirisnya, ketika rakyat akhirnya berani berteriak, mereka justru dituding membuat gaduh, tidak sopan, atau ditunggangi kepentingan tertentu.
Indonesia hari ini dipenuhi oleh Sengkuni modern yang tugasnya bukan menyampaikan kebenaran, melainkan menyaring suara rakyat hingga yang sampai ke atas hanyalah pujian.
Baca Juga: Sutejo, Sastrawan Ponorogo Raih Penghargaan Sastra Nasional 2026
Meski demikian, roh Semar tidak pernah benar-benar mati dan kini telah bereinkarnasi menjadi Semar-Semar modern.
Ia hadir pada sosok petani yang tanahnya dirampas, guru honorer yang gajinya macet, hingga mahasiswa yang mikrofonnya sengaja dimatikan saat berorasi.
Mereka turun ke jalan untuk mengingatkan penguasa bahwa kekuasaan tanpa pendengaran hanyalah wujud dari sebuah kesombongan.
Seperti kata Semar, kekuasaan itu hanya titipan, dan jika terus disalahgunakan, rakyat yang menitipkan pasti akan memintanya kembali. (naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani