Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Viral Guru SD di Lampung Mengamuk saat Upacara, Ahli Soroti Minimnya Pengawasan Psikologis ASN

Mizan Ahsani • Senin, 25 Agustus 2025 | 18:45 WIB
Kejadian di SD Pesawaran Kampung
Kejadian di SD Pesawaran Kampung

Jawa Pos Radar Madiun - Video seorang guru ASN perempuan mengamuk saat upacara bendera di Kabupaten Pesawaran, Lampung, menjadi sorotan publik.

Bukan hanya karena aksinya yang membuat siswa panik dan menangis, tetapi juga karena kasus ini membuka diskusi lebih luas tentang kesehatan mental tenaga pendidik di Indonesia.

Dalam rekaman berdurasi 1,5 menit yang viral di media sosial, guru bernama Harmini terlihat berteriak sambil mengancam siswa.

"Kalau enggak saya cekekin nih anak-anak. Ini instruksi, setiap Senin tidak ada guru yang boleh absen. Lapor kamu sama bupati," ujarnya dengan nada tinggi.

Upaya rekan sejawat menenangkan justru berujung pada amarah balik.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pesawaran, Anca Martha Utama, menegaskan Harmini bukan kepala sekolah, melainkan guru olahraga (PJOK) di SDN 5 Kedondong.

Ia mengungkapkan indikasi gangguan jiwa pada Harmini diperkuat hasil medis dan kesaksian kolega.

“Terindikasi gangguan jiwa diperkuat dengan hasil medis dan kesaksian rekan kerjanya,” kata Anca.

Riwayat perilaku Harmini sebelumnya juga pernah dipersoalkan. Pada Februari 2025, ia dipanggil karena merokok di kelas, meski sempat menunjukkan perubahan.

Menurut Anca, masalah pribadi turut menjadi pemicu depresinya. “Salah satunya karena belum memiliki pasangan meski usia sudah matang. Saat ini guru yang bersangkutan sudah dinonaktifkan,” jelasnya.

Dinas Pendidikan Pesawaran akhirnya menerbitkan surat resmi bernomor 424/058/IV.01.KD/SD9/VII/2025, yang menetapkan pemberhentian sementara Harmini sejak 1 Agustus 2025.

“Harmini diberhentikan sementara dari tugas mengajar PJOK di SDN 5 Kedondong hingga ada keputusan lanjutan,” demikian bunyi surat tersebut.

Kasus ini memang ditangani oleh Inspektorat dan pemerintah daerah. Namun, jika dicermati lebih jauh, insiden ini bukan semata persoalan individu, melainkan cermin rapuhnya sistem pengawasan kesehatan mental guru.

Guru adalah figur sentral di kelas, dituntut profesional sekaligus menjadi teladan. Namun, realitanya, beban kerja, tekanan administrasi, hingga masalah pribadi sering tidak mendapat ruang pendampingan. Harmini hanyalah satu contoh dari potensi krisis yang lebih luas.

Ahli pendidikan menilai, kesehatan mental guru seharusnya menjadi perhatian utama.

Mekanisme asesmen psikologis berkala, konseling, hingga sistem pendampingan perlu diintegrasikan dalam manajemen kepegawaian. Tanpa itu, risiko insiden serupa tetap terbuka.

Dampak Psikologis ke Siswa

Insiden di Pesawaran jelas meninggalkan trauma bagi siswa yang menyaksikannya langsung. Video memperlihatkan anak-anak menangis ketakutan saat sang guru mengamuk.

Psikolog anak menekankan, situasi seperti itu bisa menimbulkan rasa cemas berlebihan, bahkan menurunkan motivasi belajar jika tidak segera ditangani.

Karena itu, pemerintah daerah tak hanya wajib menindak guru yang bermasalah, tetapi juga memberi pendampingan psikologis kepada siswa. Ini penting agar rasa aman dan percaya di sekolah dapat pulih.

Viralnya kasus ini seharusnya menjadi alarm bagi dunia pendidikan. Guru bukan hanya dituntut mengajar, tetapi juga berperan sebagai figur teladan.

Jika kondisi psikologis mereka diabaikan, kualitas pendidikan ikut terancam. Kasus Harmini di Pesawaran menunjukkan bahwa isu kesehatan mental pendidik tidak boleh dipandang remeh.

Evaluasi sistem, pendampingan berkelanjutan, dan penguatan peran sekolah dalam menjaga iklim belajar yang sehat menjadi langkah krusial agar insiden serupa tidak terulang.

(*/naz)
Penulis: Indah Fitri Nugraheni/Politeknik Negeri Madiun

Editor : Mizan Ahsani
#Kesehatan Mental Guru #ngamuk #Guru ASN #Lampung #pendidikan lampung