Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Ragam Tradisi Ramadhan di Jawa Timur, dari Megengan hingga Malam Selawe yang Sarat Makna

Mizan Ahsani • Jumat, 20 Februari 2026 | 11:00 WIB

Ilustrasi masjid
Ilustrasi masjid

Jawa Pos Radar Madiun
– Bulan suci Ramadhan tidak hanya menjadi momen ibadah bagi umat Islam, tetapi juga menghadirkan kekayaan tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. Di Jawa Timur, berbagai daerah memiliki cara unik dalam menyambut dan menjalani Ramadhan. Tradisi-tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan sarat makna spiritual, sosial, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Berikut ragam tradisi Ramadhan di Jawa Timur yang masih lestari hingga kini.

1. Megengan, Simbol Penyucian Diri Menjelang Puasa

 

Ilustrasi megengan
Ilustrasi megengan

Megengan merupakan tradisi menyambut datangnya Ramadhan yang banyak dijumpai di berbagai daerah seperti Madiun, Surabaya, hingga Kediri. Biasanya digelar beberapa hari sebelum puasa dimulai.

Dalam tradisi ini, warga berkumpul untuk membaca doa bersama dan tahlil, kemudian membagikan makanan seperti kue apem atau nasi berkat kepada tetangga dan kerabat. Kue apem dipercaya melambangkan permohonan maaf, berasal dari kata “afwan” yang berarti maaf.

Megengan menjadi momentum refleksi diri, mempererat silaturahmi, serta memperkuat rasa kebersamaan sebelum memasuki bulan penuh berkah.

2. Nyadran atau Ruwahan, Ziarah dan Doa untuk Leluhur

 

Ilustrasi nyadran
Ilustrasi nyadran

Tradisi Nyadran atau Ruwahan dilakukan pada bulan Sya’ban, tepat sebelum Ramadhan. Masyarakat berziarah ke makam keluarga untuk membersihkan area makam, menabur bunga, dan memanjatkan doa.

Tradisi ini banyak ditemukan di wilayah Madiun, Ponorogo, hingga Bojonegoro. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, Nyadran juga menjadi pengingat akan kematian serta ajakan untuk memperbaiki diri sebelum memasuki Ramadhan.

Nilai gotong royong sangat terasa dalam kegiatan ini karena warga biasanya bekerja bersama membersihkan area pemakaman desa.



 

 

3. Patrol Sahur, Tradisi Membangunkan Warga

Ilustrasi Tradisi patroli sahur
Ilustrasi Tradisi patroli sahur
 

Patrol sahur menjadi tradisi khas yang masih banyak dijumpai di kampung-kampung Jawa Timur. Sekelompok pemuda berkeliling membawa kentongan, bedug kecil, atau alat musik sederhana untuk membangunkan warga sahur.

Di beberapa daerah, patrol sahur bahkan dikemas dalam bentuk lomba antar-RT atau desa. Kreativitas dalam membuat irama unik dan kostum menarik menjadi daya tarik tersendiri.

Tradisi ini memperlihatkan semangat kebersamaan sekaligus menjaga kearifan lokal di tengah perkembangan zaman.

4. Malam Selawe , Berburu Lailatul Qadar

Ilustrasi tradisi malam selawe
Ilustrasi tradisi malam selawe

Pada malam ke-25 Ramadhan, masyarakat jawa memiliki tradisi Malam Selawe (selawe berarti dua puluh lima). Ribuan warga biasanya memadati masjid untuk berdoa dan beritikaf.

Tradisi ini dipercaya sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah dan berharap mendapatkan Lailatul Qadar. Selain ibadah, Malam Selawe juga menjadi momen silaturahmi antarwarga.

 Baca Juga: Fenomena Tarawih 30 Juz di Ponpes Al Fatah Temboro Magetan, Ramai Jemaah saat Ramadan

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Tradisi Ramadhan di Jawa Timur menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dan budaya dapat berjalan beriringan. Setiap tradisi mengandung pesan moral, mulai dari pentingnya memohon maaf, menghormati leluhur, hingga menjaga kebersamaan.

Di tengah modernisasi, keberadaan tradisi-tradisi ini menjadi identitas sekaligus kekayaan budaya yang patut dilestarikan. Ramadhan pun tidak hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga bulan yang mempererat hubungan sosial dan memperkaya khazanah budaya masyarakat Jawa Timur.(*)

*Muhammad Almaz Firza Sasongko, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.

 

Editor : Mizan Ahsani
#puasa #megengan jelang ramadan #Ramadan 2026 #tradisi ramadan #megengan #Tradisi Jawa