JAKARTA, Jawa Pos Radar Madiun - Politikus PDIP Adian Napitupulu mengungkapkan kekecewaannya terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ungkapan kekecewaan pentolan aktivis angkatan 1998 ini disampaikan pada saat acara rapat kerja Extravaganjar (XVG) di Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (27/10) lalu.
Video ungkapan kecewa Adian beredar luas. Dalam video tersebut Adian bersyukur karena telah diberikan kesempatan hidup hingga hari ini.
Sehingga dia bisa menjadi bagian dari pertarungan bersejarah melawan eks-menantu Soeharto yakni Prabowo Subianto, dan anak Presiden Jokowi yaitu Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024.
"Saya berterima kasih, karena saya menjadi bagian dari sebuah pertarungan bersejarah melawan (eks) menantu Soeharto, dan anak presiden Jokowi secara bersamaan," katanya.
Dia mengaku sedih ketika mendengar Gibran yang juga kader PDIP justru ikut bergabung dengan Prabowo sebagai bakal calon wakil presiden alias bacawapres.
Padahal, dia telah berkeringat habis-habisan mendukung Jokowi sejak 2012 pada saat maju sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan pada saat pilpres 2014 dan pilpres 2019.
"Saya sedih ketika Gibran kemudian ke sana. Saya salah satu yang mendukung Jokowi habis-habisan dari tahun 2012. Dari saat dia pindah dari Solo ke Jakarta," ucapnya.
Adian juga mengaku sangat sedih, kecewa dan kesal.
Dia tak menyangka Jokowi justru mendukung anaknya maju sebagi bacawapres Prabowo yang notabene adalah lawan politik PDIP dan Jokowi, pada saat pilpres 2014 dan pilpres 2019.
"Kalau ada orang tanya, Ian lu sedih nggak? Sedih. Istri saya menangis. Lu kecewa nggak? kecewa. Lu kesal nggak? kesal," ujarnya.
"Apa kalau misalnya gua ketemu Presiden Jokowi, gua pengen nanya. Kenapa sih? Kenapa gitu loh, apa salah kita?" sambungnya.
"Apa yang tidak menyenangkan dari yang kita lakukan, yang membuat kamu seperti ini. Kira-kira seperti itu, kalau bisa sambil goncang-goncangkan tubuhnya. Kira-kira gitu," lanjut Adian.
Sama seperti para pendukung Jokowi lainnya yang merasa kecewa, dirinya juga membutuhkan jawaban dari Jokowi kenapa mersetui Gibran menjadi bacawapres Prabowo.
"Kenapa, saya butuh jawaban. Saya butuh jawaban," katanya.
Dia masih belum bisa percaya Jokowi dapat berubah sikap secepat itu. Dia juga menceritakan, dia sempat menolak tawaran menjadi menteri yang ditawarkan oleh Jokowi.
"Dulu, mau percaya tidak percaya. Dia pernah menawarkan saya menjadi menteri. Saya tidak mau," bebernya.
"Apa, berapa kali acara kita. Dia (Jokowi) tanya, Mas Adian ada uang? Ada, saya bisa cari (sendiri) saya bisa kumpulkan dari teman-teman yang lain," ungkap Adian.
"Saya tidak terima, kenapa? Saya tidak minta apa pun. Saya tidak pernah minta tambang sama dia. Walaupun saya di Komisi VII. Saya tidak minta keistimewaan apapun," bebernya.
"Saya tidak mau minta apapun dari Presiden Jokowi. Agar menjaga dia tetap menjadi presiden seperti dalam bayangan kita dulu, baik, bener, lurus dan sebagainya,” kata Adian.
Dia mengatakan, ada banyak sekali pendukung Jokowi yang bertanya kepadanya kenapa Jokowi merestui Gibran menjadi bacawapres Prabowo.
Dia mengaku tidak mempunyai jawabannya dan hanya bisa menduga-duga.
"Sekarang kita bisa menduga-duga. Oh, jangan-jangan karena ini, segala macam. Tapi jawaban pastinya harus saya dapatkan dari mulutnya. Presiden langsung," sebut Adian.
"Saya mau tanya. Kenapa Pak Presiden, apa yang membuat kecewa? Apakah tiga periode, apakah ada yang lain. Atau mungkin kamu tidak suka sama saya. Ngomong aja, gitu loh," terangnya.
Meski kecewa, Adian merasa senang karena bisa menjadi bagian dari sejarah, bisa ikut dalam pertarungan melawan menantu Soeharto dan anak Presiden Jokowi.
"Mungkin saja bagian dari ucapan menghibur diri saya. Kenapa, ya saya butuh, butuh pernyataan ungkapan pemikiran yang kemudian membuat saya semakin kuat," ungkap Adian.
Mantan aktivis itu bersyukur Mahfud MD terpilih untuk menjadi bacawapres Ganjar Pranowo.
"Yang menghibur saya kedua adalah ketika kemudian Pak Mahfud MD menjadi calon wakil presidennya," terangnya.
"Saya pikir, oh mungkin saya kehilangan yang satu tapi mendapatkan dua. Kira-kira seperti itu yang saya harapkan. Bisa menjadi jauh lebih baik dari yang kemarin," imbuhnya. (*)
Editor : Mizan Ahsani