Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

CATATAN | Harapkan Hujan dari Langit Air di Tempayan Ditumpahkan

Satmiko Supraptono • Senin, 20 Mei 2024 | 01:14 WIB

Satmiko Supraptono (SKETSA/RADAR MADIUN)
Satmiko Supraptono (SKETSA/RADAR MADIUN)

Oleh SATMIKO SUPRAPTONO, Jurnalis Jawa Pos Radar Madiun

PERIBAHASA dalam judul catatan ini bermakna: mengharapkan ketidakpastian yang lebih besar dengan menyia-nyiakan kepastian yang lebih kecil. 

Peribahasa ini mungkin penting sebagai bahan renungan menjelang Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024.

Khususnya untuk para calon legislator (caleg) terpilih yang bersyahwat macung di pilkada.

Sebab, polemik terkait status caleg terpilih yang hendak maju dalam Pilkada 2024 sudah tuntas.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menyatakan bahwa caleg terpilih yang mencalonkan diri dalam Pilkada 2024 harus mundur.

Ini telah disepakati dalam rapat konsultasi Rancangan Peraturan KPU (RPKPU) Pencalonan Pilkada dengan Komisi II DPR RI, Rabu (15/5).

Sehingga, jika telah ditetapkan menjadi PKPU, caleg terpilih yang hendak maju sebagai pasangan calon (paslon) kepala daerah, suka atau tidak suka wajib menaatinya.

Sebuah pilihan yang rumit. Tidak hanya perlu berpikir dua kali, namun ribuan kali mungkin.

Sebab, kursi legislatif sudah ada di tempayan, sementara kursi pucuk pimpinan eksekutif masih ada di langit.

Haruskah yang sudah ada ditempayan itu dibuang, sementara hujan dari langit masih berupa gumpalan awan dan guntur yang belum pasti turun menjadi hujan.

Ingat, masih ada peribahasa lain: mendung tak berarti hujan. Artinya, sebesar apa pun potensi (modal) untuk maju dalam pilkada bukan jaminan untuk terpilih.

Modal suara besar dalam pemilu legislatif (pileg) atau dukungan masif dari koalisi bukan jaminan sebagai pemulus untuk menjadi paslon kepala daerah terpilih.

Sebab, power di legislatif tidak selalu linier sebagai modal dalam pemilihan pucuk pimpinan eksekutif. Pemilu 2024 (Pileg dan Pilpres) sudah membuktikannya.

Bahwa, politik bukanlah hasil hitungan  dari rumus ilmu pasti. Kontestasi adalah sebuah pertandingan untuk dimenangkan. Kemenangan tercapai karena faktor teknis dan nonteknis.

Teknisnya, adalah taktik dan strategi yang harus dijalankan para paslon dan tim suksenya secara terstruktur, sistemik dan masif.

Sedangkan nonteknisnya, adalah keberuntungan yang datangnya dari langit.

Betapa pun, menurut unen-unen Jawa: manungsa mung bisa marsudi lan nyenyuwun, Gusti kang paring sabda kunfayakun (manusia hanya dapat berusaha dan berdoa, Tuhan yang bersabda jadi maka jadilah).

Dan, sabda kunfayakun itu berwujud vox populi vox dei, suara rakyat adalah suara Tuhan.

Selamat berkontestasi. Optimistis boleh, tapi jangan takbur (ndhisiki kersane Gusti). Wallahualambishawab.***

Editor : Satmiko Supraptono
#caleg terpilih #DPR RI #KPU #Pilkada 2024