Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lestarikan Pujian Nabi sejak Kiai Ageng Hasan Besari

Administrator • Jumat, 10 Mei 2019 | 19:20 WIB
Photo
Photo

BEDUG BERTALU IRINGI SYAIR SOLALLAHU


......


Ngaweruhi ingsun setuhune ora ono ing pengiran kang sinembah kelawan sakbenere, kang wajib wujude kang mukhal ngadame, kang mesti anane, anging Alloh.


Ngaweruhi ingsun setuhune Kanjeng Nabi Muhammad iku utusane Alloh, kawulane Alloh, kang romo Sayid Abdulloh, kang ibu Dewi Aminah, ingkah dhohir ono Mekah, lungo ing Madinah, jumeneng ing Madinah, gerah ing Madinah, sedo ing Madinah, sinareaken ing Madinah, bongsone bongso Arab, bongso rosul, bongso Quroish.


 


Solallahu terdengar di tiap sudut Masjid Pesantren Hudatul Muna. Santri duduk melingkar di serambi dengan kepala tertunduk. Melantunkannya dengan diiringi tetabuhan beduk yang bertalu. Momen puitis itu membuat hati bergetar haru.


Salawat yang dilantunkan dengan tembang Jawa itu tergolong langka. Tidak semua masjid membacakan tembang yang biasa disebut ujud-ujudan tersebut. Hanya, di masjid atau pesantren yang tersambung trah Kiai Ageng Hasan Besari, Tegalsari, Jetis. Masjid Pondok Pesantren Hudatul Muna, salah satunya. ‘’Hanya dilantunkan selepas jamaah salat tarawih,’’ terang Gus Arif Maftuhin, salah satu pengasuh Ponpes Hudatul Muna Jenes.


Sebagaimana salawat pada umumnya, Solallahu merepresentasikan pujian kepada Allah SWT. Mengagungkan dan mengisahkan sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Mengharap kemuliaan dan syafaat nabi akhir zaman tersebut. ‘’Juga mengajak umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan dibulan suci ini. Bersama-sama meningkatkan kualitas ibadah,’’ ungkap cucu KH. Thoyib, pendiri ponpes Hudatul Muna tersebut.


Sampai kini belum diketahui persisnya tahun berapa Solallahu digubah. Salawat itu diturunkan oleh Kyai Ageng Hasan Besari kepada santrinya secara lisan. ‘’Cara menurunkannya juga dengan mengajak membacakan salawat itu. Sudah jarang yang tahu,’’ tuturnya.


Di Pesantren Hudatul Muna, lanjut Gus Arif, pembacaan salawat ini tidaklah sembarangan. Biasanya dipimpin oleh santri senior yang dulu pernah menyerap ilmu agama di pesantren ini. Penabuh bedugnya pun tak boleh sembarangan. Irama bedug harus sesuai dengan bacaan salawat. ‘’Penabuh bedug juga harus hafal dengan bacaannya,’’ tuturnya.


Dia menambahkan irama bedug memiliki makna tersendiri dalam tiap pembacaan salawat. Selain harus seirama, bedug dimaknai sebagai penggebrak semangat kepada seluruh jamaah yang turut membacakan salawat. ‘’Memang iramanya seperti tambur perang yang terus ditabuh,’’ imbuhnya. (mg7/fin) 

Editor : Administrator
#berita ponorogo #jawa pos #radar madiun