Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Keraton Solo Gelontor 22.500 Dosis Vaksin Pfizer

Hengky Ristanto • Rabu, 3 November 2021 | 21:11 WIB
VAKSINASI: Pemkab Ponorogo mendapat bantuan puluhan ribu dosis vaksin Pfizer dari Keraton Solo. (AJI PUTRA/RADAR PONOROGO)
VAKSINASI: Pemkab Ponorogo mendapat bantuan puluhan ribu dosis vaksin Pfizer dari Keraton Solo. (AJI PUTRA/RADAR PONOROGO)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Ada pilihan baru vaksin anti-Covid-19 di Ponorogo. Yakni, Pfizer yang disebut-sebut memiliki nilai efikasi (efek perlindungan) mencapai 90 persen. Namun, sebagian warga menolak mendapat suntikan vaksin hasil kerja sama perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech, dengan perusahaan farmasi asal Amerika, Pfizer, itu lantaran takut efek samping.


Padahal, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sudah menggelontorkan 22.500 dosis vaksin Pfizer yang harus habis dalam lima hari. Dany Farida, dokter spesialis patologi klinik, menganjurkan khalayak tidak keburu panik dengan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) lantaran respons setiap individu berbeda. Apalagi, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merekomendasikan Pfizer untuk disuntikkan ke anak usia 12 tahun ke atas. ‘’Memang bahan dasar vaksin Pfizer itu sama dengan Moderna,’’ kata Dany, Selasa (2/11).


Dany menyebut, Pfizer dan Moderna berbahan molekul RNA (ribonucleic acid) yang telah dimodifikasi dan disandingkan dengan protein Covid-19 yang sudah dimutasi. Efek samping yang menyertai berupa keluhan menggigil, demam ringan, dan mual atau merasa tidak enak badan. ‘’Sekali lagi, respons setiap individu terhadap vaksin itu berbeda-beda,’’ ujarnya.


Dinkes Ponorogo memang hanya menawarkan ke puskesmas yang bersedia mengambil jatah vaksin Pfizer. Kepala Puskesmas Babadan Siti Nurfaidah sengaja mengambil kesempatan itu. Namun, ada warga satu desa yang menolaknya. Sebaliknya, warga empat desa lainnya tidak keberatan disuntik Pfizer. ‘’Yang menolak memilih menunggu yang merek Sinovac,’’ ungkap Siti.


Pihaknya belum mengetahui alasan pasti penolakan vaksin Pfizer. Kekhawatiran efek samping berupa demam berhari-hari seperti saat mendapat suntikan vaksin Moderna yang sempat mengemuka. Siti harus menggeber penyuntikan vaksin Pfizer karena terkejar deadline. ‘’Vaksin ini harus habis sebelum tanggal tujuh,’’ katanya.


Sementara itu, Supeno, kepala Satgas Covid-19 di Pondok Darul Fikri di Desa Ngrandu, Kauman, merasa beruntung mendapat jatah Pfizer. Sebab, bakal memudahkan persyaratan pergi haji maupun umrah. Pondoknya selama ini mendapat bagian vaksin Sinovac. Pihaknya juga mempertimbangkan daerah asal santri yang sebagian datang dari Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. ‘’Saya pahamkan ke mereka bahwa tingkat efektivitas Pfizer tidak diragukan lagi,’’ ucapnya. (mg7/c1/hw/her)

Editor : Hengky Ristanto
#keraton solo #ponorogo #vaksin