PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Durian mana nomor satu di Ponorogo? Durian asal Ngebel atau Klepu, Sooko? Kades Klepu Andreas Gimin tentu saja menunjuk durian dari desanya lebih unggul. ‘’Punya cita rasa khas. Manisnya itu berbeda dan ukurannya relatif lebih besar,’’ kata Gimin, Minggu (28/11).
Berat durian Klepu yang paling kecil adalah lima kilogram. Harga per biji durian dapat tembus Rp 225 ribu. Sekali panen pohon sekebun, petani lumrah menerima duit hingga Rp 20 juta. ‘’Mungkin suhu udara di desa kami cocok bagi durian. Pemilik kebun juga telaten merawat pohon,’’ jelasnya.
Gimin berhitung di desanya ada sekitar 1.000 pohon durian. Jumlah itu hanya di kebun, belum terhitung pohon durian yang tumbuh di sekitar rumah warga. Jarak antarpohon durian sengaja dibuat berjauhan. Ada ukuran baku lahan 8x8 meter hanya ada satu pohon durian. Di sela-selanya ditanami cokelat, alpukat, apel, atau mangga. ‘’Durian tetap menjadi komoditas nomor satu,’’ terangnya.
Awal mula durian tumbuh di Klepu ketika seorang warga bekerja di kebun pembibitan di Bogor. Bibit durian sengaja dibawa pulang untuk ditanam di kampung hingga tumbuh dengan baik. Warga lainnya tertarik untuk ikut menanam. Nyaris semua warga Klepu sekarang memiliki pohon durian. Jenis yang dipilih adalah montong, bawor, dan sunan. ‘’Sekarang yang paling banyak durian montong,’’ ungkap Gimin.
Merawat pohon durian itu gampang-gampang susah. Terpenting adalah kesabaran dan ketelitian. Pohon durian tidak membutuhkan banyak air. Selain itu, setiap batang perlu dihitung jumlah buahnya agar lebih produktif. Pemupukan harus memakai kompos. ‘’Idealnya panen setahun sekali. Tapi, kalau bagus perawatannya bisa dua kali panen,’’ ucap Gimin. (tr2/c1/hw/her)
Editor : Hengky Ristanto