PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Perpustakaan Daerah (Perpusda) Ponorogo begitu merananya. Pernah berada di peringkat dua nomor buncit dari puluhan perpusda daerah lain di Jawa Timur (Jatim). Dibandingkan dengan daerah se-Madiun Raya, Perpusda Ponorogo sudah tertinggal. ‘’Kalau ada penilaian lagi, sepertinya kami jadi peringkat terakhir di Jatim. Akreditasi juga C,’’ kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Ponorogo Dewi Wuri Handayani kemarin.
Menurut dia, anggaran amat minim untuk membangun fasilitas baru atau menambah layanan perpustakaan. Setiap tahun idealnya ada penambahan sekitar 5 ribu hingga 25 ribu bacaan untuk jumlah penduduk Ponorogo yang totalnya 870.705 jiwa. Tahun depan juga tidak ada pengadaan buku fisik. Perpusda hanya mendapat jatah Rp 15 juta dari APBD untuk pembiayaan buku digital. Jika menghitung kebutuhan koleksi buku, setidaknya teranggarkan minimal Rp 100 juta. ‘’Beruntung tahun ini kami berhasil mendapat DAK (dana alokasi khusus, Red) 200 juta rupiah dari pusat untuk buku,’’ terangnya.
Selain lengkapnya koleksi buku, seharusnya dibarengi dengan fasilitas perpustakaan yang memadai. Sebab, akreditasi juga dipengaruhi luasnya gedung perpustakaan selain kualitas pelayanan. Luasan Perpusda Ponorogo hanya 147 meter persegi. Padahal, standar nasional mensyaratkan rasio ideal antara luas perpustakaan dengan jumah penduduk. Belum lagi, ada tiga ruangan di kantor dinas perpustakaan dan kearsipan yang rusak hingga tidak layak lagi ditempati. ‘’Rencana kami ingin meminta aset daerah di belakang Okaz karena lokasinya lebih strategis,’’ jelas Dewi.
Sokongan dana dari APBD untuk layanan perpustakaan dan kearsipan cenderung turun. Paling besar pada 2016 lalu senilai Rp 524 juta. Sedangkan tahun lalu hanya mendapat Rp 100 juta. Dewi mengatakan, Perpusda Ponorogo butuh perhatian khusus untuk mengembangkan literasi masyarakat. Khususnya pengembangan penelitian, mengolah ilmu pengetahuan, dan pusat rekreasi. ‘’Selama ini kami mengandalkan bantuan dari CSR (corporate social responsibility, Red) dan Perpusnas (Perpustakaan Nasional),’’ ungkapnya.
Terpisah, Pustakawan Perpusda Ponorogo Noor Vita Sari menakar tingginya antusias membaca saat mobil perpustakaan keliling (pusling) datang. Bahkan, sejumlah sekolah dasar di kecamatan pinggiran meminta pusling membawa koleksi baru ketika datang kembali. Setiap mendatangi sekolah, mobil pusling membawa 150 hingga 300 buku. ‘’Biasanya langsung berebut membaca, ada anak yang menangis karena tidak kebagian,’’ ujarnya.
Vita menyayangkan hampir semua perpustakaan sekolah tanpa ada pustakawan yang mengelola. Biasanya ada guru yang ditunjuk sebagai pengelola. Padahal, pengelolaan perpustakaan ada ilmunya sendiri. Vita menyebut, ada 1.018 perpustakaan di Ponorogo yang dibina dinas. ‘’Cukup bagus fasilitasnya, tapi harus tetap didukung adanya pustakawan,’’ pungkasnya. (mg7/c1/hw/her)
Editor : Hengky Ristanto