PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Anak-anak itu berjalan mengendap dengan gerakan stakato (patah-patah) keluar dari pintu kiri menuju panggung. Diikuti lima anak lain dengan gerakan sama keluar dari pintu kanan. Sekonyong-konyong gerakan mereka berubah cepat seiring tempo musik yang mengiringi seni pertunjukan di Gedung Kesenian malam itu.
Pantomim bertajuk ”Isolatip” itu dimainkan anak-anak yang tergabung dalam komunitas teater Jangkrik Upo Mame. Pementasan berdurasi enam menit tersebut diisi tarian, dolanan tradisional, hingga berjalan sambil jongkok seperti petani sedang menanam padi. Semua aktivitas dilakukan di dalam garis isolasi yang memagari. ‘’Isolatip dapat diartikan sebagai isolasi kreatif,’’ kata Lihan Niadi, pelatih dari Jangkrik Upo Mame, Minggu (3/4).
Isolatip mencerminkan realitas pandemi saat ini. Kreativitas perlu digali agar anak-anak tidak terpapar budaya luar akibat keasyikan bertatap muka dengan dunia maya. Situasi itu rentan membuat generasi penerus bangsa meninggalkan tradisi. ‘’Isolatip diartikan menarik diri dari karut-marut global agar kembali ke alam,’’ ujarnya.
Lewat pertunjukan ini, tersirat pesan pentingnya membekali anak dengan kemampuan kreatif dalam menghadapi era disrupsi. Tanpa mengerdilkan kreativitas, anak diajak menyelami kearifan lokal di sekitarnya. Kecanggihan teknologi kiranya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pengetahuan dan budi pekerti. ‘’Pentas ini diperankan anak-anak SD-SMP. Latihannya hanya semalam sebelum pentas. Meski masih adaptasi, penampilan mereka cukup luar biasa,’’ terangnya.
Di saat bersamaan, komunitas lain turut menampilkan pertunjukan seni. Seperti Komunitas Tuwuh menampilkan Puk Ama-ama, Podjok mementaskan Diafeksi, Yakuza 45 membawakan Balada Terbunuhnya Atmo Karpo yang diadopsi dari puisi W.S. Hendra, juga Komunitas Mutter menyuguhkan Sang Surya Timur. (kid/c1/fin/her)
Editor : Hengky Ristanto