PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Sapi terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK) teridentifikasi akibat ’’impor’’ dari Boyolali, Jateng. Peternak asal Pudak mendatangkannya dari Kota Susu dan itu menjadi ternak pertama yang terjangkit PMK di Ponorogo.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perkebunan (Dispertahankan) Ponorogo Masun mengatakan, kondisi sapi 01 itu mulai berangsur membaik. Bahkan, nafsu makannya telah kembali normal. Dispertahankan rutin melakukan pengobatan terhadap ternak sapi terjangkit. ‘’Saat ini kami fokus pada percepatan penanganan,’’ kata Masun, Minggu (5/6).
Sebaran PMK kian masif. Kini telah menyebar ke sembilan kecamatan. Meliputi Balong, Jambon, Kauman, Pudak, Pulung, Sampung, Siman, dan Sooko. Total 402 ekor yang terjangkit. ‘’Apakah itu suspek? Kami tidak bisa mengatakan karena uji lab itu hanya pertama di awal. Setelah itu, kalau ada ternak bergejala penanganannya sama dengan yang terjangkit sebelumnya,’’ jelasnya.
Kasus tertinggi terjadi di Pudak dengan persentase 55,9 persen. Angka riilnya 241 ekor yang mayoritasnya sapi perah. Maklum, kecamatan itu merupakan basis populasi sapi perah terbesar di kabupaten ini. Sehingga tingkat kepadatan ternaknya juga tinggi. ‘’Jarak antarkandang sangat dekat, sementara virusnya bersifat aerosol yang bisa menularkan lewat udara. Semakin padat semakin berisiko tertular,’’ ujarnya.
Sampai kini dispertahankan tak menerima laporan kematian sapi akibat terjangkit PMK. Mendasar laporan paramedis di tiap kecamatan, kondisi kesehatan sapi yang terjangkit berangsur membaik. Tinggal menantikan masa 14 hari sebelum dinyatakan sembuh. (kid/c1/fin)
POPULASI HEWAN KUKU TERBELAH DI PONOROGO
- 9.348 sapi perah
- 85.716 sapi potong
- 45 kerbau
- 19.623 domba
- 265.377 kambing
- 160 babi
Editor : Hengky Ristanto