Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sudirman, Jathil Laki-Laki yang Tersisa

Hengky Ristanto • Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:32 WIB
SENIOR: Sudirman, penari jathil laki-laki yang tersisa di Ponorogo. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)
SENIOR: Sudirman, penari jathil laki-laki yang tersisa di Ponorogo. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Sosok satu ini tak asing lagi. Dialah Sudirman, penari jathil laki-laki yang mengabdikan hidupnya untuk kesenian tradisi asli kabupaten ini. Dia turut berjuang membesarkan festival reog. Salah satunya dengan menyebarkan kaset pita tarian dan Festival Reog Mini.


-------------------------------

PADEPOKAN di depan kediaman Kelurahan Paju itu berdiri megah. Saat pintunya terbuka, tampaklah ruang utama berukuran luas. Sudirman duduk santai di sofa panjang mengenakan baju warok. Tokoh ini merupakan seorang gemblak pada masanya.

Dirman, sapaan Sudirman, diangkat menjadi gemblak oleh seorang warok ternama pada zamannya. Dia dikontrak dua tahun. Selama menjadi gemblak, seluruh kebutuhan hidupnya ditanggung. Orang tuanya mendapatkan tebusan berupa hewan ternak serta harta benda lainnya. ‘’Setelah dikembalikan ke orang tua, menjalani kehidupan layaknya remaja pada umumnya,’’ kenangnya.


Kedekatannya dengan warok turut membesarkan namanya sebagai penari jathil. Dulu, tari ini memang dibawakan laki-laki. Menurut Dirman, tarian ini bentuk satire yang ditujukan pada para prajurit.


Tidak mudah bagi seorang laki-laki berlenggak-lenggok mengenakan pakaian yang biasa digunakan perempuan. Salah satu pelajaran pentingnya, bagaimana penari jathilan dapat mempertahankan karisma dalam balutan sopan santun. ‘’Harus ramah, tersenyum, dan pintar,’’ lanjutnya.


Dirman mulai menjadi penari jathil sejak kelas VI SD pada 1975 silam. Dia berguru ke Pak Jikun, mantan gemblak asal Desa Golan, Sukorejo. Dari Pak Jikun itulah, Dirman mengerti hakikat jathil yang sebenarnya.


Tarian itu menggambarkan prajurit yang sedang berlatih perang di atas kuda atau eblek. ‘’Awalnya hanya senang menari, tidak tahu sebenarnya jathilan itu seperti apa dan perannya bagaimana,’’ sebutnya.


Memasuki 1980-an, mulai terjadi pergeseran pada tarian ini. Banyak laki-laki yang memutuskan berhenti menjadi penari jathil. Tarian itu kemudian mulai banyak dibawakan oleh perempuan.


Namun, Dirman tak gamang. Dia memiliki tanggung jawab besar untuk melestarikan tarian ini. Meskipun harus berkorban waktu, tenaga, dan pikiran. ‘’Dulu saya yang masih sangat muda sudah berpikir. Kalau saya tidak berkorban, bagaimana jadinya kesenian ini?’’ tuturnya.


Sadar jathil laki-laki mulai punah, Dirman berinisiatif mengabadikan tarian reog per tokoh pada 1989. Mulai reog, warok, kelono sewandono, termasuk jathil yang dibawakan oleh laki-laki. Waktu itu pemerintah mendukung dengan memperbanyak dokumentasinya.


Lantas, Dirman menyebarkan kaset rekamannya ke kecamatan-kecamatan. Dari usaha itu, lahirlah Festival Reog Mini di kabupaten ini. ‘’Kami berpencar, bicara ke camat-camat dan dinas pendidikan agar setiap Agustus sekolah-sekolah mengadakan lomba reog,’’ ungkap pria berusia 59 tahun itu.


Dirman juga mendirikan Sanggar Tari Kartika Puri. Sanggar ini gratis bagi generasi muda yang ingin belajar menari. Dirman kini fokus mengajarkan tarian pada generasi muda. Kendati telah empat puluh tahun menjadi penari jathil laki-laki, Dirman hanya bermain pada acara tertentu.


Seperti ketika ada tamu dari Amerika Latin, Ekuador, yang ditugaskan untuk mengangkat kembali tarian-tarian tradisi daerah yang telah surut. ‘’Saya pernah dipanggil untuk membantu riset mengenai jathilan zaman dulu hingga menjadi penari jathilan ketika ada desa-desa yang ritual meminta hujan,’’ pungkasnya. *** (tr3/kid/c1)

Editor : Hengky Ristanto
#seniman #Reog #ponorogo