PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Petani kesulitan mendapatkan solar. Banyak dari mereka yang sambat lantaran pulang dengan tangan kosong dari SPBU tak membawa bahan bakar minyak (BBM). ‘’Beli solar hanya bisa di SPBU yang sudah tercatat dengan jumlah yang sudah ditentukan dalam surat rekomendasi,’’ keluh Kusno, petani asal Desa Madusari, Siman, Jumat (26/8).
Kesulitan itu dirasakan sejak awal tahun. Padahal, petani membutuhkan solar untuk operasional diesel dan traktor di sawah. Kebutuhan solar meningkat selama masa tanam berlangsung. ‘’Paling tidak sehari butuh 5-10 liter solar untuk traktor. Mengairi sawah pakai sumur P2T (proyek pengembangan air tanah) butuh empat liter per jam,’’ ungkap Joni Bagus Setiawan, petani asal Desa/Kecamatan Balong.
Petani juga harus memperbarui surat rekomendasi pembelian solar dari kelurahan masing-masing. Surat rekomendasi itulah yang digunakan sebagai syarat pembelian solar di SPBU. Tanpa mengantongi itu atau suratnya kedaluwarsa, tidak diizinkan membeli solar.
Dalam sehari, pembeliannya juga dibatasi sekali. ‘’Yang boleh membawa jeriken hanya petani. Rata-rata mereka minta Rp 100 ribu setiap beli,’’ jelas Ari Krissutanto, pengawas SPBU 54.634.04, Cekok, Babadan. (mg2/kid/c1/fin)
JATAH SOLAR SUBSIDI PONOROGO
- 37.589 kL kuota tahun ini
- 3.500 kL rata-rata penyaluran bulanan
ATURAN MAIN BELI SOLAR SUBSIDI
- 60 liter maksimal per hari untuk kendaraan pribadi roda empat
- 80 liter maksimal per hari untuk angkutan umum atau barang roda empat
- 200 liter maksimal per hari untuk angkutan umum orang atau barang roda enam atau lebih
KEBUTUHAN MENINGKAT
- 10 persen over penyaluran secara nasional per Juli
- 175 kL kuota Juni untuk SPBU Cekok
- 208 kL penyaluran Juni untuk SPBU Cekok
- 180 kL kuota Juli untuk SPBU Cekok
- 280 kL penyaluran Juli untuk SPBU Cekok
Editor : Hengky Ristanto