PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Gelombang demonstrasi menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terus bergulir. Giliran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Ponorogo turun ke jalan menyampaikan aspirasi di depan Gedung DPRD Ponorogo kemarin (8/9).
Sebanyak 150 mahasiswa mengawali aksinya dengan teatrikal ’’kue penderitaan’’. Seorang mahasiswa berperan sebagai buruh membawakan kue yang disimbolkan suara masyarakat. Kemudian diikuti beberapa mahasiswa lain sembari membawa jeriken kosong yang merepresentasikan masyarakat akar rumput. ‘’Kami datang membawa kue rasa penderitaan,’’ kata Ketua IMM Ponorogo Agil Nugroho.
Ada beberapa tuntutan yang disampaikan. Paling utama, mendesak pemerintah membatalkan kenaikan harga BBM. Pun meminta pemerintah meningkatkan pengawasan peredaran bahan bakar secara ketat. ‘’Kami juga meminta pemerintah mengevaluasi kembali penerapan aplikasi MyPertamina,’’ tegasnya.
Mahasiswa turut mendesak pemerintah mengevaluasi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) yang dinilai tidak mampu menjalankan fungsi pengaturan, pengawasan, dan pendistribusian BBM. ‘’Kami mendesak DPRD dan pemkab menyampaikannya ke pusat,’’ ujarnya.
Agil menjelaskan, tuntutan itu murni dari aspirasi masyarakat. IMM telah melakukan survei terhadap 240 responden. Hasilnya, 80 persen menolak kenaikan harga BBM. Apalagi kenaikan harga sebesar 30 persen dianggap tidak relevan dengan kondisi saat ini. Jika aspirasi tak ditanggapi, mahasiswa bakal kembali turun jalan dalam skala lebih besar. (kid/c1/fin)
Editor : Hengky Ristanto