PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tak menyurutkan niat warga untuk bepergian. Okupansi di Terminal Tipe A Seloaji Ponorogo terpantau stabil pasca kenaikan harga BBM. Tak kurang dari 2.500 penumpang keluar-masuk setiap hari.
Padahal, tarif tiket bus telah mengalami kenaikan. Pihak terminal memastikan kenaikan tarif terbilang wajar. Meskipun penerapan tarif bervariasi.
‘’Pengawasan kami sebelum armada berangkat, ramp check rutin. Mulai administrasi, teknis kendaraan, setelah itu kami menanyakan calon penumpang soal tarif. Mereka merasa tidak keberatan,’’ kata Koordinator Satuan Pelayanan (Korsatpel) Terminal Tipe A Seloaji Ponorogo Eko Hadi Prasetyo, Minggu (11/9).
Eko menyatakan, kenaikan tarif sejauh ini mendasar pada kesepakatan perusahaan otobus (PO) masing-masing. Sembari menantikan keputusan penyesuaian tarif dari pemerintah. Rata-rata tarif tiket bus naik sebesar 30 persen dari normalnya.
Dia mencontohkan tarif bus cepat terbatas (patas) antarkota dalam provinsi (AKDP) jurusan Ponorogo-Surabaya, sebelumnya Rp 70 ribu naik menjadi Rp 100 ribu. ‘’Pacitan-Ponorogo biasanya Rp 25 ribu jadi Rp 30 ribu,’’ ujarnya.
Sementara untuk tarif bus antarkota antarprovinsi (AKAP) rata-rata naik sebesar Rp 50 ribu. Eko mengungkapkan, kenaikan tarif masih terpantau untuk angkutan jarak jauh. Sedangkan tarif angkutan dalam kabupaten maupun angkutan jurusan Ponorogo-Madiun relatif tetap.
‘’Tarif kenaikan hanya yang jarak jauh, tapi belum seragam. Ini kami menunggu proses pembahasan. Sejak ada kenaikan harga BBM, sampai sekarang tidak ada penurunan penumpang,’’ pungkasnya. (kid/c1/fin)
Editor : Hengky Ristanto