Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Bentengan Ponorogo Cup, Anak Zaman Now Harus Kenal Permainan Tradisional

Hengky Ristanto • Selasa, 11 Oktober 2022 | 01:15 WIB
PERMAINAN TRADISIONAL: Bentengan Cup di Lapangan Arjowinangun, Tamansari, Sambit, sukses mendatangkan banyak penonton. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO) JAGA BENTENG BUKAN TUGAS ENTENG
PERMAINAN TRADISIONAL: Bentengan Cup di Lapangan Arjowinangun, Tamansari, Sambit, sukses mendatangkan banyak penonton. (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO) JAGA BENTENG BUKAN TUGAS ENTENG

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Anak-anak Ponorogo era-90 an punya segudang dolanan berkesan. Ada dhelikan, gobak sodor, juga bentengan. Permainan tradisional yang terakhir itu dimainkan oleh dua tim.


Satu tim terdiri lima orang. Masing-masing tim harus mempertahankan bentengnya. Agar tidak disentuh (pal) oleh lawan. Ketika satu orang tersentuh, maka dia harus menjadi tahanan tim lawan. Kemudian masuk ke dalam garis tahanan yang telah disediakan. Cara membebaskan anggota yang tertahan itu juga dengan cara menyentuhnya.


Nostalgia permainan tradisional dibangkitkan kembali oleh Ponorogo Creative Forum (PCF). Bentengan Ponorogo Cup digelar di Lapangan Arjowinangun, Tamansari, Sambit, mulai 6-9 Oktober. ‘’Kami ingin melestarikan sekaligus menghidupkan kembali permainan ini,’’ kata Herdianto Adiva Purwo Anggoro, ketua pelaksana Bentengan Ponorogo Cup 2022.


Bentengan Ponorogo Cup diikuti 12 tim dari berbagai wilayah di kabupaten ini. Mereka bermain di lapangan seluas 20x10 meter. Masing-masing tim mendapatkan garis kotak berukuran 1,5 x 1 meter untuk memenjarakan lawan yang tersentuh. ‘’Posisi tahanan harus berada di dalam garis tahanan di dalam garis lapangan. Kalau keluar dari garis, tidak sah untuk diselamatkan dan tetap menjadi tahanan,’’ urainya.


Penentuan pemenang dari permainan ini melalui sistem poin. Seberapa banyak jumlah tahanan, siapa yang lebih dulu menyentuh tiang lawan, juga tim mana yang mendapat tahanan pertama. Tim yang banyak melakukan pelanggaran juga mendapatkan nilai minus. ‘’Jika sebelum 15 menit ada tim yang bisa menyentuh tiang dan berteriak ‘beteng’ maka langsung dinyatakan menang. Kemarin ada tim yang bisa menang dalam tiga menit,’’ imbuh Difky Galing, juri turnamen.


Banyak penonton yang berdatangan untuk menyaksikan turnamen ini. Saat pertandingan dimulai, penonton sangat antusias dan ikut memberi semangat serta arahan kepada pemain. ‘’Permainan tradisional itu sebenarnya tak kalah asyik dengan permainan di handphone,’’ ucap Wahyu, salah seorang penonton. (mg2/kid/c1/fin)

Editor : Hengky Ristanto
#Bentengan Ponorogo Cup #bentengan #permainan tradisional #Ponorogo Creative Forum