PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Air mata Sri Utami tumpah di pos pengungsian saat menceritakan detik-detik tanah longsor di Gunung Banyon kemarin (24/10). Rumahnya yang berada di RT VI, Dusun Krajan, Desa Talun, Ngebel termasuk zona merah longsor. Hanya berjarak selemparan batu di bawah mahkota longsor.
Suara bergemuruh seperti guntur terdengar dari atas rumahnya sekitar pukul 18.30, Minggu (23/10). Sri bergegas menggendong Naufal Saif Ibtihad, buah hatinya yang berusia tujuh tahun. Hanya membawa pakaian yang dikenakan di badan, Sri bersama suami dan anaknya berlari menembus pekatnya lingkungan yang sejak tiga hari belakangan listriknya padam.
Saat itu turun hujan dan longsoran lumpur dan pohon sudah sampai di pelataran rumahnya. Sri terus berlari sembari menggendong putrinya dalam dekapannya. ‘’ Lari sambil gendong anak saya. Nggak sempat bawa apa-apa, selamatkan nyawa dulu,’’ kata Sri sembari berurai air mata, kemarin.
Sri bersama keluarganya mengungsi di rumah warga yang berada di zona kuning. Sejam berselang dijemput pihak desa dan warga menuju rumah kepala desa (kades) setempat. Keesokan harinya baru menuju pos pengungsian di SDN 1 Talun.
Sampai kini, Sri belum mengetahui kondisi terkini tempat tinggalnya. ‘’Sekarang nggak boleh ke sana, longsornya sudah sampai bawah,’’ lanjutnya.
Pukul 01.00 kemarin dinihari, material longsor berupa tanah, batu, dan pohon sampai di permukiman RT V. Yuliana, warga RT V merasa bersyukur telah meninggalkan rumah sejak pukul 19.00. Dia bersama warga lain mengungsi sesaat mendengar suara dentuman keras.
‘’Dengar suara itu, saya lari gendong anak sama keluarga gelap nggak ada penerangan. Ini nggak bawa barang apa-apa,’’ kata Yuliana.
Yuliana menyebut tanah longsor di Gunung Banyon bukanlah kali pertama. Telah berkali-kali terjadi longsor setiap musim penghujan. Seingatnya, longsor terakhir terjadi sekitar delapan bulan lalu. Ketika itu skalanya kecil sehingga dirinya dan warga lain tetap bertahan di rumah masing-masing. ‘’Rumah saya bawahnya pas, longsor ini yang paling besar,’’ ungkapnya.
BPBD Ponorogo mencatat longsor di Gunung Banyon termasuk skala besar dalam kurun enam tahun terakhir. Sedikitnya 260 jiwa terdiri dari 96 KK yang tersebar di lima rukun tetangga (RT) yang terdampak. Paling parah di RT V dan VI yang masuk dalam zona merah.
Ada 40 kepala keluarga (KK) yang tinggal di zona merah tersebut. ‘’Zona merah itu ada di bawahnya mahkota longsor,’’ kata Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Ponorogo Hadi Susanto.
Hadi menyatakan, material longsor meluncur satu kilometer dari titik mahkota longsor. Permukiman warga RT I, III, dan IV yang berada di zona kuning turut terdampak. Seluruh warga diungsikan di tiga titik pos pengungsian.
‘’BPBD fokus ke pos pengungsian. Pemerintah membuka dapur umum, ada tim kesehatan dari puskesmas dan TNI yang mengecek kesehatan pengungsi secara berkala,’’ ujarnya. (kid/fin)
Editor : Hengky Ristanto