Problem klasik itu membuat aliran sungai tersendat. Imbasnya, seperti bencana alam yang melanda Rabu malam (9/11). Tiga jembatan di Kecamatan Bungkal yang berada di sepanjang aliran sungai itu putus. Jembatan Desa Ketonggo dan Kunti putus total.
Jembatan penghubung Desa Nambak dan Desa Koripan rusak fondasi. ‘’Kemarin memang di sekitar Bungkal hujan lebat. Beberapa aliran sungai mengalami pendangkalan. Rumpun bambu serta kayu terbawa arus nyangkut di pilar jembatan menyebabkan konstruksinya rusak,’’ kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Surono.
Pendangkalan, penyempitan, hingga bambrongan bambu yang tersangkut di jembatan juga menyebabkan beberapa titik tanggul di Desa Kunti dan Nambak jebol. Akibatnya sungai meluap ke sebagian wilayah di dua desa itu.
Terutama di sepanjang aliran sungai tersebut. Kendati banjir luapan sungai sempat menggenangi permukiman, air cepat surut tak kurang dari 2-3 jam. ‘’Titik pendangkalan di sepanjang sungai dari Desa Kunti sampai Nambak, ada penyempitan sungai karena tumbuh rumpun bambu yang akhirnya terbawa arus itu,’’ lanjutnya.
Surono menyebut dampak luapan sungai turut dirasakan warga Desa Ngasinan (Jetis) dan Muneng (Balong). Air juga menggenangi sebagian persawahan di sepanjang aliran sungai tersebut. ‘’Tarik simpulnya berada di titik penyempitan dan pendangkalan sungai mulai Kunti hingga Nambak yang memang cukup parah,’’ ungkapnya.
BPBD telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Titik-titik tanggul yang jebol telah dicek dan BBWS siap menutupnya. Segala biang keladi kerusakan infrastruktur pengairan itu diurai. ‘’Kami menyiapkan relawan untuk standby. Jika diperlukan, siap evakuasi setiap saat,’’ tegasnya.
Pada bagian lain, tingginya curah hujan kembali memicu longsor di Ngrayun. BPBD mencatat ada 15 titik longsor di wilayah atas tersebut. Paling parah, menutup akses jalan menuju Desa Cepoko dan Wonodadi. ‘’Longsoran mengenai beberapa rumah dan jalan. Luncuran longsor terjadi di Desa Wonodadi dan Cepoko,’’ pungkasnya. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto