Tentu bukan asal pematung, sebab proyek mercusuar ini diproyeksikan setinggi 126 meter atau 5 meter lebih tinggi dari Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali.
Pembangunan MRMP juga turut melibatkan seniman lokal. Sebab, proyek mercusuar ini bersifat kolosal sehingga tetap menjunjung kearifan lokal.
Seniman lokal yang bakal dilibatkan nantinya harus sesuai kriteria dan keahlian sebagaimana spesifikasi yang disyaratkan. ‘’Seniman lokal diikutkan karena ini kolosal,’’ kata Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.
Kang Giri, sapaan bupati, menambahkan, desain yang digunakan merupakan pemenang sayembara yang diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah. Diperkaya dengan memasukkan unsur Ponorogo dan Reog.
Dipastikan, filosofi MRMP tidak keluar dari akar budaya Ponorogo. ‘’Di mana pun negara yang paling berhasil itu membangun berdasarkan budaya. Ponorogo dimulai, nuansa wisata tidak keluar dari akar budaya, masyarakat ikut handarbeni,’’ lanjutnya.
Kepala Disbudparpora Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi mengungkapkan pembangunan MRMP bakal memberikan impact bagi seniman lokal. Pematung yang memiliki skill bakal diprioritaskan dalam memberikan referensi ke pelaksana.
Tidak asal-asal menggaet seniman. Melainkan harus memiliki skill sesuai spesifikasi dalam detail engineering design (DED).
‘’Monggo untuk seniman maupun yang memiliki keahlian di bidang itu silahkan berkoordinasi dan berkoordinasi dengan disbudparpora,’’ ujarnya. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto