Masa pengerjaan megaproyek pengairan senilai Rp 1,1 triliun itu memakan waktu hingga delapan tahun. Kemudian, diresmikan Presiden Joko Widodo pada 7 September 2021.
‘’Saat ini masih tahap pengajuan sertifikasi,’’ terang Rifky Maulana, Kepala SNVT Pembangunan Bendungan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.
Diperkirakan, sertifikasi untuk Bendungan Bendo terbit akhir tahun ini. Setelah mengantongi sertifikasi langsung dapat digunakan untuk mengalirkan air dari hulu ke hilir.
Sembari menunggu proses itu selesai, tampungan airnya kini dialirkan ke hilir secara berkala. ‘’Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,’’ ujarnya.
Bendungan Bendo memerlukan sertifikasi. Sebab, struktur bangunannya memiliki risiko tinggi. Setiap tahapannya harus melalui sertifikasi dari Komisi Keamanan Bendungan. ‘’Mulai dari desain, pembangunan, genangan hingga pengoprasian,’’ tegasnya.
Jika tidak melalui proses itu, dikhawatirkan operasionalnya kelak membahayakan struktur bendungan. Bedungan Bendo memberikan manfaat untuk 7.800 hektare area irigasi.
‘’Selain untuk DI (daerah irigasi) Bendo seluas 3.330 hektare dan juga menyuplai DI Saluran Induk Madiun seluas 4.500 hektare,’’ ungkapnya.
Bendungan raksasa ini juga memberikan pasokan air baku kapasitas 370 liter per detik secara konstan sepanjang tahun. Sebelum resmi pengoperasiannya saja, bendungan ini telah mengalirkan air ke hilir untuk persawahan saat kemarau lalu.
‘’Beberapa petani meminta ke petugas bendungan untuk dialiri air,’’ ucapnya.
Fungsi bendungan selain memenuhi ketersediaan air juga mengontrol banjir di daerah hilir. Kawasan yang dulunya rentan digenangi hujan dari hulu ke hilir, kini bisa ditampung di bendungan. ‘’Air bisa diatur berapa banyak yang keluar lewat pintu bendungan,’’ pungkasnya. (fac/fin) Editor : Hengky Ristanto