Anton Pratama menerima pesanan berkali lipat pada Imlek di tahun ini. Hari normal, biasanya hanya menggarap 10 pesanan kini berlipat hingga 100 lampuin. Dia sampai kewalahan sehingga tak mampu menerima seluruh pesanan yang masuk.
‘’Kalau pesananannya tidak ada yang ditolak, bisa lebih. Tapi waktu dan tenaga terbatas,’’ tutur perajin lampion asal Kelurahan Surodikraman, itu.
Lampion itu tidak hanya pesanan dari warga Tionghoa yang menetap di kabupaten ini. Pesanan juga berdatangan dari berbagai daerah. Mulai Magetan, Solo dan wilayah Jawa Tengah lainnya hingga Bekasi, Jawa Barat.
Saat lebaran, Anton juga banjir pesanan. ‘’Setahun bisa 200-300 lampion. Tahun lalu tembus 500 pesanan,’’ ujarnya.
Anton mulai menekuni kerajinan lampion sejak lima tahun belakangan. Sebelumnya, dia memproduksi lampu hias berbahan pipa. Ketika itu seorang konsumennya memesan lampion.
Dari situlah, dia mulai tertarik dan mempelajari membuat lampion secara otodidak. ‘’Ternyata peminatnya cukup tinggi, akhirnya ditekuni hingga sekarang,’’ tukasnya.
Lampion buatannya bisa bertahan setahun lebih. Dia sengaja memilih material kawat besi sebagai rangka agar sanggup tahan lama. Pun, material kain yang dimanfaatkan merupakan jenis tahan air.
Jenis lampion yang diproduksi berdiameter 30 sentimeter dengan tinggi 30 sentimeter, dan diameter 25 sentimeter dengan tinggi 50 sentimeter. ‘’Ada juga bentuk karakter, menyesuaikan permintaan konsumen,’’ ungkapnya.
Soal harga, lumayan bersahabat. Jenis lampion yang dilengkapi lampu dan variasi tulisan hanya dihargai Rp 85 ribu. Sedangkan lampion tanpa lampu hanya Rp 65 ribu. ‘’Awalnya getok tular antar pelanggan, sekarang pemasarannya merambah online,’’ pungkasnya. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto