Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo Masun mengungkapkan, laporan kasus LSD sudah ditemukan di empat daerah di Jawa Timur. Bahkan, salah satunya merupakan daerah tetangga di Madiun Raya.
Pencegahan digencarkan agar penyakit kulit infeksius yang menyerang kerbau dan sapi itu tidak masuk ke kabupaten ini. ‘’LSD dilaporkan masuk ke Indonesia akhir Desember. Ponorogo masih zona hijau, tapi yang perlu diwaspadai kasus ditemukan di tetangga terdekat daerah kita,’’ ujarnya.
LSD bukanlah penyakit baru di dunia peternakan. Penyakit itu disebabkan LSD virus dengan materi genetik DNA dari genus capripoxvirus dan famili poxviridae. Kasus pertama kali ditemukan di Zambia, Afrika pada 1929 silam. Kemudian menyebar ke Eropa dan masuk ke Asia 2019 silam. ‘’LSD ini termasuk penyakit lama yang muncul lagi, serupa PMK,’’ tegasnya.
Morbiditas atau angka kesakitan penyakit LSD sekitar 45 persen. Lebih rendah dari PMK yang mencapai 90 persen. Masa inkubasinya berkisar 4-5 pekan. Gejala klinisnya berupa nodul atau benjolan (cekung) di sekitar kepala, leher, kaki, dan tubuh ternak. Gejala lainnya ternak terlihat lemas serta terdapat leleran hidung dan mata, pembengkakan limfonodi subscapula dan prefemoralis (depan lutut). Jika menjangkiti sapi perah, dapat menurunkan produksi susu. ‘’Penyakit ini berdampak signifikan pada aspek ekonomi,’’ ujarnya.
Masun meminta peternak senantiasa menjaga kebersihan. Baik makanan, kandang, hingga kendaraan pengangkut ternak. Peternak wajib sterilisasi sebelum masuk kandang setelah bepergian dari pasar hewan maupun kandang lain.
Serta vaksinasi anti-LSD. ‘’Penularannya melalui peralatan, kandang, kendaraan, bahkan orangnya yang terkontaminasi atau bersinggungan dengan ternak terinfeksi LSD. Penanganannya sama dengan PMK, diisolasi, desinfeksi, pengobatan,’’ pungkasnya. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto