Kepala Dinsos-PPPA Ponorogo Supriyadi mengatakan perlu assesment dan identifikasi awal guna memastikan penghuni pasar yang terdampak berikut identitas dan asal daerahnya. Agar diketahui seluruh penghuni pasar, by name by address.
‘’Jangan sampai ditutup itu kemudian muncul di titik lain. Dampak sosial ini yang menjadi kewenangan kami untuk mengantisipasinya,’’ kata Supriyadi.
Dia menyatakan kesiapannya untuk melakukan pendampingan. Mulai jaminan kesehatan, bantuan sosial (bansos), hingga pelatihan guna membekali keterampilan. Jika diperlukan, pihaknya turut menyiapkan pendampingan psikologi maupun kerohanian. Dua relawan psikologi, dan dua relawan keagamaan bakal diterjunkan. ‘’Dalam penanganan perempuan, kami memiliki relawan-relawan yang dapat membantu,’’ lanjutnya.
Supriyadi juga telah mendengar informasi soal pelaku dari luar daerah. Dari hasil identifikasi nantinya bakal diketahui daerah asal pelaku. Kemudian dikorodinasikan dengan dinas di daerah asalnya. Dinsos-PPPA juga bakal berkoordinasi dengan pemerintah provinsi. ‘’Assessment juga untuk mengetahui kebutuhan yang diperlukan apa saja. Mungkin pendampingan kesehatan, pelatihan jika memungkinkan, bantuan sosial, gambarannya seperti itu,’’ ungkapnya.
Supriyadi menegaskan pentingnya penanganan dampak sosial dalam revitalisasi Pasar Janti. Sehingga pemerintah tidak sekedar menutup, melainkan juga turut memberikan solusi sebagaimana disampaikan bupati. ‘’Dampak sosial itu penting untuk ditangani agar problem ini tidak muncul lagi di tempat lain,’’ sambungnya. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto