Wakil Rektor I Insuri Ahmad Syafi’i menuturkan kampus ini tengah berjuang menjadi universitas. Untuk itu, perlu upgrade sarana dan prasarana hingga sumber daya manusia (SDM). ‘’Kami akan terus berjuang agar kampus ini menjadi universitas,’’ tuturnya.
Syafi’i menuturkan lembaga pendidikan NU di Bumi Reog lengkap di semua jenjang. Mulai TK, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK hingga perguruan tinggi. Kendati jumlahnya belum proporsional. ‘’Sekolah NU kebanyakan tersebar di sekitar wilayah kota, belum merata di setiap kecamatan,’’ kata Wakil Rois Syuriah PCNU Ponorogo, itu.
Syafi’i menilai dunia pendidikan NU perlu disempurnakan. Terutama di sektor manajemen lembaga dan SDM. Mengingat persaingan di dunia pendidikan semakin ketat, baik negeri maupun swasta. Salah satunya dengan menggenjot jumlah lulusan S-2 di kalangan pendidik. ‘’Bila SDM tidak ditingkatkan, maka akan ketinggalan,’’ ungkapnya.
Insuri sendiri mulai memperbaiki kualitas SDM. Kampus di Jalan Bathoro Katong ini telah memiliki 10 pengajar bergelar doktor dan satu profesor. Bahkan, Insuri menjadi kampus pertama di Ponorogo yang memiliki program pasca sarjana pada 2004 silam. ‘’Berkat itu pula sekarang ini banyak bermunculan kampus swasta. Seperti Stainu Pacitan, Trenggalek, Tulungagung dan Nganjuk,’’ urainya.
Puncak Seabad NU menjadi momentum yang tepat untuk melecut cita-cita mulia di sektor pendidikannya. Dunia pendidikan NU kian bersinergi dalam membangun negeri. ‘’Selama ini NU secara umum dipandang ubudiyah-nya saja, muamalah juga harus diperhatikan. Kita harus menghidupkan kembali sosok seperti Prof. Dr. KH. M Tolchah Mansoer, selain ulama juga intelektual,’’ harapnya. (fac/fin) Editor : Hengky Ristanto