Dwi Juli Sapta, seniman dari Kongan Kota Madiun sampai menambah durasi waktu hingga Sabtu (11/3) demi menuntaskan mural yang diusungnya. Karyanya berbicara tentang doa dan harapan. Hal itu ditunjukkan melalui objek-objek khas Gang Gayam seperti emping melinjo dan pohon Gayam. ‘’Mumpung ada wadah di Ponorogo, kami turut mangayubagyo,’’ katanya.
Kini, tembok di sepanjang Gang Gayam terlihat artistik. Beraneka mural yang terpampang mengusung kearifan lokal. Serasa membangkitkan memori masa silam. Menggugah ingatan tentang gunung, matahari, sawah yang identik dengan gambar semasa kecil.
Sebagaimana karya bertajuk Sentimentil karya enam seniman dari Cokro Sketsa Ponorogo. ‘’Mencoba merayu rasa dan kenangan dalam objek visual di Gang Gayam ini. Selamat bernostalgia,’’ kata Kukuh PAL, seniman dari Cokro Sketsa Ponorogo.
Jubir Setiaris Space Art, Agra Hadi Abdurrachman menambahkan mural di Gang Gayam bakal menjadi pameran seumur hidup. Siapapun dapat menjadi penikmat dan mengapresiasinya. Ekspresi pelaku seni menjadi mural tersebut merupakan Tetenger di Gang Gayam. ‘’Selama tembok belum dirobohkan, mural ini jadi pameran seumur hidup,’’ kata Agra. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto