Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tiga Pusaka Eyang Batoro Katong Dikirab Keliling Kota, Tandai Perpindahan Pusat Pemerintahan era 1873 Silam

Budhi Prasetya • Rabu, 19 Juli 2023 | 22:00 WIB

SAKRAL : Sejumlah warga mengambil air dan mencuci muka dengan air jamasan yang diambil dari sumber pitu (tujuh sumber), kemarin (18/7). (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)
SAKRAL : Sejumlah warga mengambil air dan mencuci muka dengan air jamasan yang diambil dari sumber pitu (tujuh sumber), kemarin (18/7). (AJI PUTRA/JAWA POS RADAR PONOROGO)
 

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Perayaan grebeg suro mencapai puncaknya kemarin (18/7). Masyarakat tumpek blek di sepanjang rute Kota Lama menuju Alun-alun Ponorogo menyaksikan kirab pusaka. Kirab pusaka peninggalan Eyang Batoro Katong, pendiri Ponorogo tersebut menandai perpindahan perpindahan pusat kabupaten dari Kota Lama (Pasar Pon) ke Kota Tengah atau Kota Baru sekitar 1837 silam.

Ada tiga pusaka yang dikirab dalam rangkaian perayaan Grebeg Suro, yakni Tombak Kiai Tunggul Nogo, Sabuk Angkin Cinde Puspito, dan Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung. Ketiga pusaka tersebut dibedol dari rumah dinas bupati menuju Kota Lama dini hari sebelumnya (18/7).

Pusaka bernilai historis tersebut memiliki makna bagi kabupaten ini. Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung simbol pemimpin yang harus mampu mengayomi. Tombak Kiai Tunggul Nogo menandakan pemimpin siap berada di depan dengan segala risikonya.

‘’Sementara Sabuk Angkin Cinde Puspito, itu pemimpin harus mampu kencangkan ikat pinggang tidak rakus, atau semena-mena,’’ jelas Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko.

Rute kirab pusaka dimulai dari kompleks makam Eyang Batoro Katong di Kelurahan Setono, Jenangan. Diarak ke barat menuju perempatan Pasar Pon ke Jalan Batoro Katong, Ahmad Dahlan, HOS. Cokroaminoto, Jenderal Sudirman, dan bermuara di Paseban Alun-alun. Ketiga pusaka kemudian dijamas menggunakan air kembang telon terdiri dari bunga mawar, melati, dan kenanga.

Air jamas diambilkan dari sumber pitu (tujuh sumber) yang diyakini bertuah. Di antaranya, Tegalsari, Katongan, Karangtalok, Umar Sodiq, Imam Puro Danyang, dan Masjid Agung RMAA Tjokronegoro.

Pusaka Sabuk Angkin Cinde Puspito diserahkan Sekda Agus Pramono kepada Bupati Sugiri Sancoko untuk dijamas dengan diolesi beberapa bagian menggunakan air jamasan tersebut. Sementara tombak Kiai Tunggul Nogo dan Payung Songsong Kiai Tunggul Wulung dijamas pada bagian ujungnya. Pusaka itu kemudian disimpan di kantor bupati.

Sedangkan air sisa jamasan yang konon dianggap bertuah tersebut, diperebutkan ribuan warga Ponorogo. ‘’Ada dua tumpeng yang kami siapkan juga, sebagai bentuk berbagi berkah,’’ ujar Bupati. (gen/kid)

Editor : Budhi Prasetya
#Batoro Katong #Bupati Ponorogo #Sugiri Sancoko #grebeg suro #kirab pusaka